Posts

Jingga

Hujan sedari senja belum juga mereda, seirama dengan air mata yang masih mengalir getir di pipi kemerahan wanita yang kini masih mengurungdiri di kamar miliknya. Baru kali ini Ia alami hal semacam ini, tangis yang meledak, dada yang sesak. Patah hati. Ya, ini adalah patah hati pertamanya. Patah hati yang diakibatkan oleh ekspektasinya sendiri: Ia mengira, lelaki yang selama ini menjadi muara kasih—maupun keluh kesahnya itu, akan menjadi tokoh utama yang bersanding bahagia dengannya seperti dalam cerita di novel favoritnya. Ia merasa bersalah sekaligus kecewa kepada dirinya sendiri karena telah dengan mudahnya menaruh hati. Padahal mulanya, Ia selalu mampu menghindari ketukan pintu hati dari sembarang lelaki. Sampai pada kejadian yang tak akan pernah Ia lupakan, pertemuan dengan seorang lelaki yang rela Ia labuhkan hatinya pada sosok itu, Jingga. Tidak ada yang istimewa dalam pertemuan ia dengan Jingga, hanya hal sederhana berupa saling tatap mata dalam gerbong kereta yang saat itupun t...

Monolog

  Setelah ini, sepertinya akan aku alami perasaan aneh itu kembali. Matahari kian meninggi, jalanan mulai ramai. Ditinggalkannya aku, segelas-plastik kopi hitam dingin, dan cahaya yang selalu kudamba di ufuk sana. Zuar, masihkah kamu bertanya-tanya kenapa aku suka cahaya? Seandainya kamu tidak begitu saja pergi, akan aku ceritakan tentang ini: Dalam perjalanan pulang kerja shift malam, si ganteng—motor kesayanganku ini—mogok. Aku belum terlalu mengerti perihal motor dan setahuku bengkel cukup jauh dari sini. Sehabis hujan sungguh membuat jalanan begitu sepi, hanya ada beberapa mobil lewat yang nampak begitu diburu waktu. Aku kebingungan, menghubungi siapapun tidak bisa karena ponselku mati sebab dayanya lupa kuisi. Karena tak mau hanya menunggu entah siapapun itu, kuputuskan untuk mendorong si ganteng. Setiba di jembatan yang terletak di atas jalan tol, aku beristirahat. Mendorong motor ternyata cukup menguras tenaga, bajuku kebasahan oleh keringat yang terkuras karenanya. ...

Epilog

  "Aku jadi penasaran, kenapa setiap cerita yang kau tulis selalu berakhir tragis?" Tanyamu lewat pesan singkat setelah membaca tulisan terbaruku di blog. "Akhirnya kau bertanya. Telah sejak lama aku siapkan jawaban untuk pertanyaan yang satu ini." Balasku dengan membubuhkan emotikon senyum terbalik. "Bisa gak langsung jawab aja? Kebiasaan banget, heran." Sambarmu dengan ketus seperti biasanya. Aku hanya bisa tertawa. Di ruang obrolan, nampak jelas kau masih dalam jaringan. Mungkin kau benar-benar ingin tahu tentang itu. "Aku benci terhadap cerita dengan akhir bahagia, atau lebih tepatnya aku benci dengan pikiranku sendiri perihal cerita dengan akhir yang bahagia." "Kenapa? Ada apa dengan cerita yang berakhir bahagia?" "Ia selalu membawa pikiranku menuju hal—yang menurutku—mengerikan, yakni kebosanan. Kebosanan itulah yang nantinya menyebabkan kebahagiaan berubah menjadi kengerian berupa kesedihan, kepedihan." Kau tak se...

philo shopia

Pertemuan kita saat itu adalah hal yang tak mungkin bisa dihindari meski kita mencoba mencari-cari tempat untuk melarikan diri. Karena kita sepakat, pertemuan kita, bukanlah sebuah kebetulan—melainkan sesuatu yang telah lama Tuhan gariskan—takdir kita menyebutnya. Takdir, adalah pembahasan mendalam pertama kita. Dari sebuah kejadian, aku dan kamu mulai percaya, cepat atau lambat, sepasang manusia akan dipertemukan di waktu dan tempat yang tepat. Aku, yang tengah merasa berada di titik terendah dalam hidupku, bertemu denganmu yang tengah berusaha memenuhi ambisi. Saat itu, menjadikanmu sosok yang akan mengulurkan tangan, nampaknya hanya jadi sebuah angan. Namun, jalan begitu mulusnya, kau sambut tanganku yang lemah ini, membantuku berdiri. Kauterima ajakanku untuk menempuh sebuah perjalanan. Berjalan—beriringan denganmu sungguh menyenangkan sekaligus menenangkan. Bersamamu, segalanya tampak indah—menggugah. Tak ada selangkahpun di sampingmu tak terlukiskan sebuah senyuman di wajah. Ah...

Kirana

  "Kulo tresno kalih sampean," ungkap lelaki itu dengan cemas dan penuh harap—lewat pesan singkat di whatsapp. Pesan telah tercentang dua, terbaca. Namun, belum juga ada sepatah kata pun terketik dari ujung sana. Lelaki itu mulai gelisah. Berpuluh-puluh menit berlalu, tanda "sedang mengetik" di bawah nama "Kirana" tiba. Kegelisahan lelaki yang sedari tadi masih menunggu di ruang obrolan—kian bertambah. Akankah ada jawaban yang nantinya membuat ia mengucap syukur, atau penolakan halus yang membuatnya harus segera "mundur." "Kau tidak tidur lagi, kan? Kita keluar sekarang." Pesan dari ujung sana yang tak sedikitpun menjawab ungkapan dari lelaki itu. Ya, memang sama sekali tidak ada pertanyaan apapun darinya. "Aku sudah di depan rumah ala kedai kopimu itu. Cepetan!" Susul pesan selanjutnya yang membuat jantung lelaki yang telah mencukur habis jenggot di dagunya itu mulai berdebar kencang, tak keruan. Ia pun langsung menyingkap...

Cerita ini singkat, aku menaruh rasa padamu, tapi kubiarkan berlalu karena tahu kau tengah ingin berjalan sendirian—menuju Tuhan.

Apa kabar? Bukan Bukan kamu Apa kabar mimpi-mimpimu? Sudahkah kau wujudkan? Atau hanya menguap dalam angan-angan? Itu kira-kira pembuka surat yang akan kutulis untukmu (yang kukutip dari salah satu sajak dari Suar Aksara berjudul 'Apa Kabar?') jika ruang dan waktu masih saja kurang ajar memisahkan aku dan kamu sampai jauh dan lamanya begitu. Satu-satunya alasan yang membuatku mempertanyakan hal demikian adalah kecemburuan. Cemburu terhadap mimpimu. Bagaimana bisa seseorang begitu bergairahnya menjalani hidup dan melupakan kesenangan yang ada di depan matanya hanya demi sebuah mimpi? Ya, meski kita sama-sama tahu, kesenangan yang ada di depan kita saat ini juga tidak pernah nyata adanya. Tapi kita juga sama-sama tahu, hanya orang-orang tidak sadarlah yang hanya hidup dalam mimpi (meski pula, hanya orang-orang tidak sabarlah yang menganggap mimpi ini sebenar-benarnya kehidupan nyata). Aku tidak pernah tahu mimpi semacam apa yang kaumiliki. Aku juga tidak pernah mengira ia ...

Dialog Pria dan Wanita

  "Di sini, kusediakan berbagai macam kepahitan. Tinggal kaupilih, kepahitan mana yang ingin kautelan?" Ucap pria yang tengah memperlihatkan beberapa toples biji kopi yang tersusun di atas rak dinding dengan tangannya—selayaknya pramuniaga profesional. "Okey, ternyata bukan hanya di media sosial saja ya kau bersajak demikian?" Timpal wanita di depan pria itu sembari mengedarkan pandang ke tiap penjuru, mencari sesuatu. "Sepertinya aku lupa memberitahumu kalau minumanku adalah teh." Ucapnya setelah merasa yang dicarinya tak tersedia di rak dinding yang menempel di dinding teras rumah yang lebih terlihat seperti kedai kopi. "Duh, kenapa aku juga gak kepikiran nanya soal itu, ya? Dasar, asal ajak saja." Gerutu pria yang memiliki janggut lebat di dagunya itu. "Huh, ya sudah. Susu cokelat hangat sepertinya enak." Ucap wanita bermata cokelat itu sembari menunjuk satu bungkus kecil kental manis di antara barisan pelengkap makanan ringan yang...