Posts

Showing posts from October, 2019

Kita, Yang (Tidak) Senang Bercanda

Setelah merasa bahwa perasaanku tak akan mungkin berbalas, perlahan hatiku mencoba berlaku ikhlas. Walau akalku tahu itu bukan hal yang mungkin, hatiku bersikeras merasa yakin. Aku pergi, tanpa pamit. Dalam hati terbersit harap untuk kaucari, apa daya–kau masih sibuk dengan duniamu sendiri. Kaukira aku senang bercanda, tanpa pernah kautahu–hatiku tengah dirundung hampa. Kukira kau senang bercanda, tanpa pernah kutahu–dirimu benar-benar ingin aku pergi saja.

Hilangnya Sinar Langit

Dalam keadaan lemas, Zuar dengan lengannya terkulai di ujung kasur–masih butuh beberapa waktu agar bisa mengangkat badannya sendiri yang (menurut khayalan) beratnya seperti gajah liar depan rumahnya di dalam mimpi. Putus asa, ia akhirnya harus lapang dada seharian bercinta dengan kasur yang ia terima dari kakaknya dua bulan lalu. Makan, minum, buang angin sampai buang air ia tuntaskan di atas kasur yang ternyata sudah terasa seperti hamparan batu-batu kerikil. Ia tidak perlu sedikitpun berkata "tolong" atau semacamnya, karena dengan tingkahnya yang membuat siapapun gelisah, sekejap mata istrinya–yang siang-malam berusaha terjaga di atas bangku di samping kasur yang tidak malu dan mau bercinta dengan Zuar–langsung mengurus semua yang sekiranya membuat ia lega karena tidak akan mendengar rengekan manja sang suami. Lastri–istri Zuar–sebenarnya sudah muak dengan keadaan suaminya yang satu bulan ini waktunya hanya dihabiskan di kamar, bermanja ria di atas kasur, dan t...