Posts

Showing posts with the label Kita Berkisah

Di Hari Bahagiamu: Perpisahan

3.  "Hari ini saya mau ke rumah kamu bersama Hadi, lelaki yang pernah saya ceritakan waktu itu." isi pesan dari Ustaz Hari, sebuah pesan yang membuatku cukup kaget. Saat itu aku tengah tidak di rumah karena ada jadwal mengajar privat di luar. Dan ada pesan masuk dari orang rumah bahwa ada Ustaz Hari bertandang ke rumah bersama seorang pemuda. Hal tersebut juga membuatku kaget, ternyata Ustaz Hari serius dengan ucapannya. Selepas maghrib aku tiba di rumah, aku langsung menemui Ibu. Ibu pun bercerita bahwa tadi kedatangan tamu, Ustaz Hari dan seorang pemuda bernama Hadi, mereka ingin memperkenalkan diri dan meminta izin untuk mengenalku. Karena masih merasa lelah dan tidak tenang, aku izin pada Ibu untuk sejenak istirahat dan melaksanakan salat isya terlebih dahulu. Dalam salat, tidak terasa air mata mengalir begitu saja. Ibu yang sepertinya sedari tadi menungguku, selesai aku salat  ia langsung mendekatiku.  "Kalau kamu belum siap gak apa-apa, Kak. Bisa dibicarain ...

Di Hari Bahagiamu: Pertemuan

1. Hari ini merupakan hari bahagiaku bersama suamiku, ya, karena ini hari pernikahan kami. Aku tidak pernah menyangka akan mengalami hal seperti ini lebih cepat dan dengan orang yang tepat. Ya, karena aku merasa dia, suamiku, adalah orang yang memang dipilih Tuhan atas doa-doaku selama ini. Dan tahukah kamu? Kami dipertemukan oleh skenario Tuhan yang unik, sangat unik, hingga aku pun tidak henti-hentinya tersenyum – tersipu malu setiap kali mengenangnya. Saat itu, sesudah beberapa bulan menjadi tenaga pengajar di sebuah sekolah swasta, ustaz Hari, kepala sekolah di sekolah tersebut, memanggilku ke ruangannya melalui staf tata usaha. "Ada yang ingin beliau bicarakan denganmu, Kirani" kata staf tata usaha yang mendapat tugas untuk memanggilku. Di ruangannya, ustaz Hari menjelaskan bahwa pemanggilanku tersebut tidak ada hubungannya dengan kinerja di sekolah. Lantas aku bertanya perihal apa yang akan dibicarakan. Perihal menawarkan seorang lelaki untuk dijadikan pen...

Hilangnya Sinar Langit

Dalam keadaan lemas, Zuar dengan lengannya terkulai di ujung kasur–masih butuh beberapa waktu agar bisa mengangkat badannya sendiri yang (menurut khayalan) beratnya seperti gajah liar depan rumahnya di dalam mimpi. Putus asa, ia akhirnya harus lapang dada seharian bercinta dengan kasur yang ia terima dari kakaknya dua bulan lalu. Makan, minum, buang angin sampai buang air ia tuntaskan di atas kasur yang ternyata sudah terasa seperti hamparan batu-batu kerikil. Ia tidak perlu sedikitpun berkata "tolong" atau semacamnya, karena dengan tingkahnya yang membuat siapapun gelisah, sekejap mata istrinya–yang siang-malam berusaha terjaga di atas bangku di samping kasur yang tidak malu dan mau bercinta dengan Zuar–langsung mengurus semua yang sekiranya membuat ia lega karena tidak akan mendengar rengekan manja sang suami. Lastri–istri Zuar–sebenarnya sudah muak dengan keadaan suaminya yang satu bulan ini waktunya hanya dihabiskan di kamar, bermanja ria di atas kasur, dan t...