Monolog
Setelah ini, sepertinya akan aku alami perasaan aneh itu kembali.
Matahari kian meninggi, jalanan mulai ramai. Ditinggalkannya aku, segelas-plastik kopi hitam dingin, dan cahaya yang selalu kudamba di ufuk sana.
Zuar, masihkah kamu bertanya-tanya kenapa aku suka cahaya? Seandainya kamu tidak begitu saja pergi, akan aku ceritakan tentang ini:
Dalam perjalanan pulang kerja shift malam, si ganteng—motor kesayanganku ini—mogok. Aku belum terlalu mengerti perihal motor dan setahuku bengkel cukup jauh dari sini. Sehabis hujan sungguh membuat jalanan begitu sepi, hanya ada beberapa mobil lewat yang nampak begitu diburu waktu. Aku kebingungan, menghubungi siapapun tidak bisa karena ponselku mati sebab dayanya lupa kuisi.
Karena tak mau hanya menunggu entah siapapun itu, kuputuskan untuk mendorong si ganteng.
Setiba di jembatan yang terletak di atas jalan tol, aku beristirahat. Mendorong motor ternyata cukup menguras tenaga, bajuku kebasahan oleh keringat yang terkuras karenanya. Berkeringat di saat cuaca seperti ini sungguh menyebalkan, membuatku merasa tidak nyaman.
Sekitar sepuluh menit berlalu, terdengar suara motor yang melambat kemudian berhenti tepat di belakangku saat aku tengah menujukan pandang ke ujung jalan tol.
"Ada yang bisa saya bantu?" Ucapan yang kudengar.
Aku pun berbalik. Betapa kagetnya aku ketika mendapati seorang pria dengan pakaian serba putih dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. Hampir saja aku terjatuh dari jok motor kesayanganku jika kakiku tidak reflek menginjakkan kaki ke trotoar jembatan tempatku menepikan motor.
"Tenang, mbak. Saya manusia." Ucapnya sigap dengan kedua tangannya diangkat seakan mengerti sumber kekagetanku.
"Mogok, ya, mbak? Boleh saya lihat motornya?" Tanya pria itu yang tengah menilik motorku.
"I-iya boleh" jawabku menyilakan setelah yakin bahwa ia memang manusia.
Pria itu pun menghampiri motorku yang nampak kelelahan, lalu memeriksanya. Aku hanya berdiri di belakangnya, memerhatikan. Dia mencoba menyalakan, memeriksa tangki bensin.
"Starter aman, bensin penuh. Sudah ganti oli?" Tanyanya.
"Sudah, dua minggu yang lalu atas saran teman saya." Jawabku.
"Kalau begitu sepertinya di bagian kelistrikan. Boleh saya bongkar? Saya memang selalu membawa peralatan untuk jaga-jaga kalau satu waktu terjadi seperti ini"
Aku hanya mampu mengiyakan seraya memberi kepercayaan penuh kepadanya meski ia bukan orang yang kukenal. Ya, dalam keadaan terburuk, yang bisa kita lakukan hanya percaya, kan?
Ia pun mengambil beberapa alat dari bagasi motornya yang diparkir di depan motorku, kemudian membongkar si ganteng.
Sejenak aku palingkan pandangku menuju ujung jalan tol, memandangi semburat mentari yang hampir terbit. Ada perasaan hangat yang timbul karenanya. Aku terkagum, terpaku. Baru kali ini aku dapati pemandangan indah semacam ini, padahal hampir setiap hari aku lewat sini.
"Baru sadar kalau pemandangan di sini itu indah, ya, Mbak?" Suara dari belakangku.
"Eh, iya, Mas. Hehe" jawabku setelah mendapati pria yang tengah membongkar motorku memandang ke arah yang sama denganku, kemudian ke arahku. Cahaya yang belum merata membuatku belum sepenuhnya jelas melihat raut wajah pria itu.
"Kadang kita terlalu fokus dan sibuk dengan tujuan di ujung kejauhan sampai gak sadar kalau yang kita lewatkan ternyata merupakan keindahan."
Aku mengamini. Setelah diingat-ingat kembali, memang banyak hal yang sering kulewatkan hanya demi lebih cepat tercapainya mimpi.
"Mbak, percaya gak kalau di alam semesta ini gak ada yang kebetulan?" Tanya pria itu yang masih sibuk dengan motorku.
"Saya ragu kalau soal itu, Mas." Jawabku sekenanya.
"Dari kepercayaan akan itu saya yakin kalau kemogokan motor mbak ini pasti ada maksudnya, selain kesadaran yang tadi mungkin mbak dapetin."
"Selain? Berarti masih ada lagi dong, ya?"
"Salah satunya dipertemukannya ... "
Suara knalpot mobil racing yang baru saja lewat membuatku tak mendengar jelas ucapan pria di depanku yang sepertinya tengah terkekeh. Aku pun kembali menikmati suguhan matahari yang mulai terbit di ufuk sana. Aku cukup menyayangkan ponselku yang tidak bisa kupakai untuk mengabadikan momen indah ini.
"Mbak, sudah nyala."
Cepat sekali? Keterpakuanku akan hal indah di ujung sana membuatku sejenak lupa dan tak sadar akan motorku yang sudah menyala. Aku pun segera memalingkan badan hingga kudapati pria yang memperbaiki motorku tengah berdiri di hadapanku, tersenyum. Sinar matahari kali ini membuat raut wajah pria di depanku terlihat begitu jelas dan membuatku sejenak terpaku. Wajah yang berseri, sorot mata yang menenangkan, membuatku merasakan hal yang sama ketika pertama kali melihat suguhan pemandangan yang tadi kunikmati, hangat.
"Mbak?"
"Eh, iya-iya, maaf." lagi-lagi aku hilang sadar dan bingung harus berbuat apa, tapi tak mau sampai terlihat salah tingkah.
"Karena motornya sudah bisa dipakai, saya izin pamit." ucapnya sembari memasukkan peralatan miliknya ke dalam bagasi.
"Iya, silakan. Terima kasih banyak loh, Mas. Jadi merepotkan, sampai-sampai baju dan sarung masnya kotor begitu."
"Gak masalah." ucapnya yang mulai menyalakan motor miliknya.
"Eh, iya. Nama masnya, siapa?" Tanyaku setelah sadar tengah melupakan sesuatu.
"Panggil saja Nur." jawabnya setengah berteriak karena sudah menjalankan motornya, menancap gas.
"Matur nuwun mas Nuuurr!" Teriakku mengucap terima kasih lagi meski yakin tak mampu didengarnya.
Hanya beberapa saat, sosoknya sudah begitu jauh. Aku berusaha melihatnya dari belakang, dari kejauhan.
Aku pandangi kembali matahari terbit di ufuk timur dan begitu saja teringat tentang pria yang telah hilang di ujung jalan itu.
"Nur? Cahaya? Hahaha, pantas saja." Gumamku seraya tak percaya dengan apa yang sudah menimpaku pagi ini.
Comments
Post a Comment