Posts

Showing posts from November, 2019

Di Hari Bahagiamu: Perpisahan

3.  "Hari ini saya mau ke rumah kamu bersama Hadi, lelaki yang pernah saya ceritakan waktu itu." isi pesan dari Ustaz Hari, sebuah pesan yang membuatku cukup kaget. Saat itu aku tengah tidak di rumah karena ada jadwal mengajar privat di luar. Dan ada pesan masuk dari orang rumah bahwa ada Ustaz Hari bertandang ke rumah bersama seorang pemuda. Hal tersebut juga membuatku kaget, ternyata Ustaz Hari serius dengan ucapannya. Selepas maghrib aku tiba di rumah, aku langsung menemui Ibu. Ibu pun bercerita bahwa tadi kedatangan tamu, Ustaz Hari dan seorang pemuda bernama Hadi, mereka ingin memperkenalkan diri dan meminta izin untuk mengenalku. Karena masih merasa lelah dan tidak tenang, aku izin pada Ibu untuk sejenak istirahat dan melaksanakan salat isya terlebih dahulu. Dalam salat, tidak terasa air mata mengalir begitu saja. Ibu yang sepertinya sedari tadi menungguku, selesai aku salat  ia langsung mendekatiku.  "Kalau kamu belum siap gak apa-apa, Kak. Bisa dibicarain ...

Di Hari Bahagiamu: Pertemuan

1. Hari ini merupakan hari bahagiaku bersama suamiku, ya, karena ini hari pernikahan kami. Aku tidak pernah menyangka akan mengalami hal seperti ini lebih cepat dan dengan orang yang tepat. Ya, karena aku merasa dia, suamiku, adalah orang yang memang dipilih Tuhan atas doa-doaku selama ini. Dan tahukah kamu? Kami dipertemukan oleh skenario Tuhan yang unik, sangat unik, hingga aku pun tidak henti-hentinya tersenyum – tersipu malu setiap kali mengenangnya. Saat itu, sesudah beberapa bulan menjadi tenaga pengajar di sebuah sekolah swasta, ustaz Hari, kepala sekolah di sekolah tersebut, memanggilku ke ruangannya melalui staf tata usaha. "Ada yang ingin beliau bicarakan denganmu, Kirani" kata staf tata usaha yang mendapat tugas untuk memanggilku. Di ruangannya, ustaz Hari menjelaskan bahwa pemanggilanku tersebut tidak ada hubungannya dengan kinerja di sekolah. Lantas aku bertanya perihal apa yang akan dibicarakan. Perihal menawarkan seorang lelaki untuk dijadikan pen...

Kesadaran Yang Kasar Bagi Angan Yang Keterlaluan

Image
Oleh kesadaran aku dibangunkan dari sebuah angan yang telah lama menetap dalam kehidupan. Angan itu berupa keinginan menjadikanmu teman hidup seperjalanan. Setelah beberapa waktu aku terbangun, angan menjauh, pergi, bahkan hilang. Mungkin kesadaran terlalu kasar membangunkanku hingga angan enggan hinggap kembali menghiasi malam-malam-ku. Walau kutahu niatnya baik, sangat baik, yakni menyelamatkanku dari kerasnya sebuah pengharapan terhadapmu, masih saja aku mengutuk kesadaran dengan makian. Karena angan-mu sudah sangat keterlaluan,  ucap kesadaran padaku setelah membangunkanku kesekian kali.