philo shopia

Pertemuan kita saat itu adalah hal yang tak mungkin bisa dihindari meski kita mencoba mencari-cari tempat untuk melarikan diri. Karena kita sepakat, pertemuan kita, bukanlah sebuah kebetulan—melainkan sesuatu yang telah lama Tuhan gariskan—takdir kita menyebutnya.


Takdir, adalah pembahasan mendalam pertama kita. Dari sebuah kejadian, aku dan kamu mulai percaya, cepat atau lambat, sepasang manusia akan dipertemukan di waktu dan tempat yang tepat.

Aku, yang tengah merasa berada di titik terendah dalam hidupku, bertemu denganmu yang tengah berusaha memenuhi ambisi. Saat itu, menjadikanmu sosok yang akan mengulurkan tangan, nampaknya hanya jadi sebuah angan. Namun, jalan begitu mulusnya, kau sambut tanganku yang lemah ini, membantuku berdiri. Kauterima ajakanku untuk menempuh sebuah perjalanan.

Berjalan—beriringan denganmu sungguh menyenangkan sekaligus menenangkan. Bersamamu, segalanya tampak indah—menggugah. Tak ada selangkahpun di sampingmu tak terlukiskan sebuah senyuman di wajah. Ah, indahnya.

Seiring perjalanan, kita mulai bosan. Bukan, bukan karena keindahan yang memudar. Melainkan, kita mulai sadar: selama berjalan, tak satupun kita punyai arah-tujuan.

Kuputuskan untuk sejenak berhenti, tetapi kamu lebih memilih pergi. Kautinggalkan aku bersama janji-janji yang kupikul sendirian, tanpa pedoman, tanpa penerangan.

Tidak sebentar untuk akhirnya kembali aku lanjutkan perjalanan.

Perjalanan tanpa arah-tujuan ini sungguhlah melelahkan. Sampai tiba pada satu kesadaran bahwa pulanglah satu-satunya jalan, karena di tempat pulanglah kita akan kembali dipertemukan.

Dari kejadian ini aku menyadari: kita tidak pernah berada pada waktu maupun tempat yang tidak tepat, kita hanya sering lupa bahwa ketepatan akan selalu berada pada jalur ketetapan.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita ini singkat, aku menaruh rasa padamu, tapi kubiarkan berlalu karena tahu kau tengah ingin berjalan sendirian—menuju Tuhan.

Jingga