Epilog
"Aku jadi penasaran, kenapa setiap cerita yang kau tulis selalu berakhir tragis?" Tanyamu lewat pesan singkat setelah membaca tulisan terbaruku di blog.
"Akhirnya kau bertanya. Telah sejak lama aku siapkan jawaban untuk pertanyaan yang satu ini." Balasku dengan membubuhkan emotikon senyum terbalik.
"Bisa gak langsung jawab aja? Kebiasaan banget, heran." Sambarmu dengan ketus seperti biasanya. Aku hanya bisa tertawa.
Di ruang obrolan, nampak jelas kau masih dalam jaringan. Mungkin kau benar-benar ingin tahu tentang itu.
"Aku benci terhadap cerita dengan akhir bahagia, atau lebih tepatnya aku benci dengan pikiranku sendiri perihal cerita dengan akhir yang bahagia."
"Kenapa? Ada apa dengan cerita yang berakhir bahagia?"
"Ia selalu membawa pikiranku menuju hal—yang menurutku—mengerikan, yakni kebosanan. Kebosanan itulah yang nantinya menyebabkan kebahagiaan berubah menjadi kengerian berupa kesedihan, kepedihan."
Kau tak segera membalas, memberiku sedikit jeda.
"Jadi, aku lebih baik langsung memilih kesedihan itu sendiri daripada harus dininabobokan terlebih dahulu oleh kebahagiaan yang entah kapan akan tetap membawaku menemui kesedihan."
"Kamu memang biasa seperti ini ketika diminta menjelaskan sesuatu?" Tanyamu.
"Kenapa? Ribet, ya?"
"Iyaa, merepotkan. Tapi aku cukup menangkap maksudmu: semua cerita, bagaimanapun akhirnya, akan tetap berujung kesedihan, bukan begitu?"
"Senang sekali ada yang mengerti keruwetan pikiranku ini." Balasku dengan kembali membubuhi emotikon senyum terbalik (entah kenapa akhir-akhir ini aku senang memakainya, mungkin karena ketidakjelasan maksudnya).
"Bukankah kesedihan ada redanya?" Keluar juga pertanyaan retorismu itu.
"Bukankah bahagia juga demikian?" Balasku, tak mau kalah.
"Zuar," panggilmu. Sebuah tanda perdebatan akan dimenangkan, olehmu. "Bagaimana jika hal itu terjadi pada kehidupan nyatamu?"
"Aku yakin pemikiran itu berasal dari pengalamanmu yang kamu tuangkan dalam tulisan. Di sini kulihat ada yang salah dengan dirimu, kamu terlalu pesimis terhadap sesuatu sehingga kamu mengira segalanya akan berakhir dengan tragis. Kamu lupa bahwa ada yang namanya surga, tempat segala kebahagiaan bermula dan tak akan pernah sirna."
Lagi-lagi aku dibuatmu terkesima—kehabisan kata-kata, kamu memang paling mengerti tentang kekhawatiranku tentang hidup. Memang betul, yang membentuk pemikiran sempitku saat ini adalah pengalamanku yang menyedihkan. Aku merasa bahwa bahagia tak tercipta untuk kumiliki, aku merasa tidak pantas mendapatkannya, apalagi bahagia sekelas surga. Namun, sepertinya, kebahagiaan berupa hidup bersamamu akan aku usahakan.
"Kirana" panggilku kepadamu. Sebuah tanda percakapan akan menegangkan.
"Kulo tresno kalih sampean,"
Comments
Post a Comment