Epilog
"Aku jadi penasaran, kenapa setiap cerita yang kau tulis selalu berakhir tragis?" Tanyamu lewat pesan singkat setelah membaca tulisan terbaruku di blog. "Akhirnya kau bertanya. Telah sejak lama aku siapkan jawaban untuk pertanyaan yang satu ini." Balasku dengan membubuhkan emotikon senyum terbalik. "Bisa gak langsung jawab aja? Kebiasaan banget, heran." Sambarmu dengan ketus seperti biasanya. Aku hanya bisa tertawa. Di ruang obrolan, nampak jelas kau masih dalam jaringan. Mungkin kau benar-benar ingin tahu tentang itu. "Aku benci terhadap cerita dengan akhir bahagia, atau lebih tepatnya aku benci dengan pikiranku sendiri perihal cerita dengan akhir yang bahagia." "Kenapa? Ada apa dengan cerita yang berakhir bahagia?" "Ia selalu membawa pikiranku menuju hal—yang menurutku—mengerikan, yakni kebosanan. Kebosanan itulah yang nantinya menyebabkan kebahagiaan berubah menjadi kengerian berupa kesedihan, kepedihan." Kau tak se...