Surat Sialan
Pada saat sang senja tak mau segera beranjak, dengan sepasang lengan yang oleh kepalaku dijadikannya sandaran, aku dapati diriku tengah merebah–memandangi eloknya rembulan di kolong langit tak berawan. Persis di samping kananku, tergolek tas yang kubawa seharian. Kubuka, kurogoh tas itu dan kudapati secarik surat yang sampai saat ini belum kuketahui kepada siapa surat ini dialamatkan. Kubolak-balik kertas pembungkus surat ini yang tak tertulis satu kata pun, baik berupa nama maupun alamat. Akhirnya dengan hati-hati kubuka pembungkus surat ini, berharap kutemukan sebuah nama yang dituju. Kubaca secarik surat ini dengan teliti, sekelebat waktu berganti, senja pergi digantikan pagi, entah kenapa tubuhku berubah posisi, ah, siku tanganku terasa sakit, sepertinya aku sehabis jatuh. "Duh, eh, maaf gak sengaja, soalnya lagi buru-buru nih." Sesosok wanita di depanku berbicara sambil memunguti buku-buku yang jatuh. "Oh, iya, gak masalah.” jawab...