Monolog
Setelah ini, sepertinya akan aku alami perasaan aneh itu kembali. Matahari kian meninggi, jalanan mulai ramai. Ditinggalkannya aku, segelas-plastik kopi hitam dingin, dan cahaya yang selalu kudamba di ufuk sana. Zuar, masihkah kamu bertanya-tanya kenapa aku suka cahaya? Seandainya kamu tidak begitu saja pergi, akan aku ceritakan tentang ini: Dalam perjalanan pulang kerja shift malam, si ganteng—motor kesayanganku ini—mogok. Aku belum terlalu mengerti perihal motor dan setahuku bengkel cukup jauh dari sini. Sehabis hujan sungguh membuat jalanan begitu sepi, hanya ada beberapa mobil lewat yang nampak begitu diburu waktu. Aku kebingungan, menghubungi siapapun tidak bisa karena ponselku mati sebab dayanya lupa kuisi. Karena tak mau hanya menunggu entah siapapun itu, kuputuskan untuk mendorong si ganteng. Setiba di jembatan yang terletak di atas jalan tol, aku beristirahat. Mendorong motor ternyata cukup menguras tenaga, bajuku kebasahan oleh keringat yang terkuras karenanya. ...