Kirana

 "Kulo tresno kalih sampean," ungkap lelaki itu dengan cemas dan penuh harap—lewat pesan singkat di whatsapp.


Pesan telah tercentang dua, terbaca. Namun, belum juga ada sepatah kata pun terketik dari ujung sana. Lelaki itu mulai gelisah.

Berpuluh-puluh menit berlalu, tanda "sedang mengetik" di bawah nama "Kirana" tiba. Kegelisahan lelaki yang sedari tadi masih menunggu di ruang obrolan—kian bertambah. Akankah ada jawaban yang nantinya membuat ia mengucap syukur, atau penolakan halus yang membuatnya harus segera "mundur."

"Kau tidak tidur lagi, kan? Kita keluar sekarang." Pesan dari ujung sana yang tak sedikitpun menjawab ungkapan dari lelaki itu. Ya, memang sama sekali tidak ada pertanyaan apapun darinya.

"Aku sudah di depan rumah ala kedai kopimu itu. Cepetan!" Susul pesan selanjutnya yang membuat jantung lelaki yang telah mencukur habis jenggot di dagunya itu mulai berdebar kencang, tak keruan. Ia pun langsung menyingkap gorden jendela warna putih polos di ruang malasnya untuk memastikan kebenaran pesan yang diterimanya itu. Benar saja. Kirana, wanita yang ia ungkapkan perasaan kepadanya, sedang duduk di atas kuda besi miliknya di depan gerbang rumah milik lelaki yang kini tengah bergegas menuruni tangga.

"Masih subuh, loh. Mau ke mana, sih?" Gerutu lelaki itu setelah mendapati Kirana di depan gerbang.
"Udaah, ikut aja. Nih, helm-nya. Kali ini aku yang bonceng." Ajak Kirana tanpa mau berlama-lama.

"Lah, gak liat aku masih sarungan? Mana kaus doang, dingiiin." lelaki itu masih menggerutu.

"Bawel, udah cepetan naik!" Paksa Kirana.

"Iya iya, yowis. Hari ini atau besok demam, salahmu, yok."

Kirana langsung menancap gas ketika lelaki itu sudah duduk dengan gemetar menahan dingin di jok motor bagian belakang.

Jalanan masih gelap dan sepi, ditambah becek dan suasana yang dingin setelah diguyur gerimis pukul dua pagi tadi. Namun, tidak dengan otak dan hati lelaki yang tengah dibonceng wanita yang telah ia ungkapkan perasaan kepadanya itu, cerah, ramai, dan hangat. Meski gelisah masih saja sama, membuat ia takut akan jawaban yang akan diterimanya.

Beberapa bulan lalu, mereka saling berkenalan, dipertemukan oleh teman mereka dalam sebuah projek video narasi. Kemudian akrab. Dengan modal keakraban itu, lelaki yang senang bersajak itu memberanikan diri mengungkapkan rasa, dengan kata-kata yang tak biasa ia tuliskan untuk mengisi portofolionya, sederhana.

"Jembatan? Seriusan?" Tanya lelaki itu keheranan ketika Kirana menyebut telah sampai pada tujuan. "Mau ngapaiin?"

"Bawel, ih. Udah diem aja, nanti juga tahu." Cerca Kirana sambil berjalan meninggalkan lelaki itu sendirian menuju motor penjual minuman yang tak jauh dari tempat ia memarkirkan motor.

Di ujung jalan bebas hambatan di bawah jembatan, lelaki yang masih duduk di motor milik Kirana mendapati langit mulai merekah. Hatinya kian menghangat. Jarang ia dapati pemandangan demikian.

"Nih, biar gak ngantuk." Kirana menyodorkan segelas plastik kopi hitam sachet-an dengan tangan kanannya sembari meniup teh tawar di genggaman tangan kirinya, "belom pernah, kan, minum kopi ginian?"

"Dih, gak ada tau-taunya mbak yang satu ini. Justru ngopi yang asik ya gini, apalagi sama temen satu tongkrongan. Yang di rumah cuma buat gaya-gayaan aja. Haha"

"Mana ada gaya-gayaan sampe segitunya?"

"Lah, aku buktinya."

"Dasar, emang."

Rekahan di ufuk timur kian menyeruak. Kirana mengeluarkan ponsel pintarnya dari saku celana, kemudian mengabadikan pemandangan.

"Jadi gimana?" Tanya tiba-tiba lelaki yang sudah malas berbasa-basi.

"Gimana apanya?" Jawab Kirana—yang masih sibuk dengan ponsel—sekenanya.

"Aku suka sama kamu."

"Terus?"

"Ya, seenggaknya kamu tanggapi, apapun itu."

"Hmm, gimana, ya(?)."

"Jangan bikin aku nunggu."

"Hmm, gatau."

"Kok, gak tau?"

"Ya, gak tau aja mau jawab apa. Aku bingung kalo soal beginian. Lagian, kamu suka aku kan itu hakmu, tapi bukan jadi kewajiban buatku untuk suka kamu juga, kan?"

"Jadi, gak berbalas, nih?"

"Ya, gak semua perasaan harus dibalas perasaan juga, kan?"

"Terus, ngapain kamu ngajak aku ke sini?"

"Kebetulan kamu bangun pagi aja, jadi kuajak ke sini."

Kehangatan di hati lelaki itu berubah, memanas. Tanpa berkata satu kata pun lagi, ditinggalkannya begitu saja Kirana, kopi hitam yang masih hangat, dan tentu saja rekahan terbitnya matahari pagi hari. Pada saat itu, ia mulai menemukan alasan untuk membenci matahari terbit di pagi hari, Kirana.












Comments

Popular posts from this blog

Cerita ini singkat, aku menaruh rasa padamu, tapi kubiarkan berlalu karena tahu kau tengah ingin berjalan sendirian—menuju Tuhan.

philo shopia

Jingga