Cerita ini singkat, aku menaruh rasa padamu, tapi kubiarkan berlalu karena tahu kau tengah ingin berjalan sendirian—menuju Tuhan.

Apa kabar?

Bukan

Bukan kamu

Apa kabar mimpi-mimpimu?

Sudahkah kau wujudkan?

Atau hanya menguap dalam angan-angan?

Itu kira-kira pembuka surat yang akan kutulis untukmu (yang kukutip dari salah satu sajak dari Suar Aksara berjudul 'Apa Kabar?') jika ruang dan waktu masih saja kurang ajar memisahkan aku dan kamu sampai jauh dan lamanya begitu.

Satu-satunya alasan yang membuatku mempertanyakan hal demikian adalah kecemburuan. Cemburu terhadap mimpimu.

Bagaimana bisa seseorang begitu bergairahnya menjalani hidup dan melupakan kesenangan yang ada di depan matanya hanya demi sebuah mimpi? Ya, meski kita sama-sama tahu, kesenangan yang ada di depan kita saat ini juga tidak pernah nyata adanya. Tapi kita juga sama-sama tahu, hanya orang-orang tidak sadarlah yang hanya hidup dalam mimpi (meski pula, hanya orang-orang tidak sabarlah yang menganggap mimpi ini sebenar-benarnya kehidupan nyata).

Aku tidak pernah tahu mimpi semacam apa yang kaumiliki. Aku juga tidak pernah mengira ia dapat membuatmu begitu sulitnya diterka.

Mulanya aku merasa, bahwa banyak kesamaan yang tanpa disengaja ada antara aku dan kamu. Sampai tiba aku yakini, di dunia ini, memang tidak pernah ada yang tidak disengaja. Semuanya telah terencana. Oleh siapanya, kita telah ketahui bersama.

Datang satu waktu aku harus mengaku, merasa membutuhkanmu sebagai teman seperjalanan. Perjalanan seperti apa, kau lebih tahu daripada aku.

"Sudikah kau denganku, saling mengikatkan janji dalam sanubari?" Sebuah pertanyaan—yang kuyakini bukan sebuah ketidaksengajaan—terlontar dari jiwa terdalamku yang diwakili oleh beberapa karakter di sebuah layanan pesan instan.

"Masih ada mimpi yang belum kutuntasi." Dengan mudahnya kauakhiri perbincangan yang kubayangi akan membuahkan kegembiraan. Aku mafhum.

Janji. Begitu mudah lisan mengucapkannya kala hati kita tengah berbunga. Bukankah hidup akan tetap bergerak—hingga tak akan mungkin hanya menyediakan hal-hal menyenangkan? Sanggupkah kita menelan kepahitan akan ketidakterwujudan janji? Ah, berbicara perihal janji jadi mengingatkanku terhadap perkaataan ahli agama bahwa setelah ruh kita ditiupkan ke dalam raga dalam kandungan, kita mengikrarkan-diri terhadap Tuhan. Aku jadi membayangkan, bagaimana perasaan Tuhan yang telah begitu saja kita beri janji. Akankah Ia kecewa?

Kesadaran akan hal itu membawaku mencari tahu tentang janji itu, janji menuhankan Tuhan.

Dalam perjalanan pencarian janji menuhankan Tuhan, aku cukup merasakan yang mungkin kaurasakan.

Dalam memenuhi janji, aku alami semacam gelegak dalam hati, yang mungkin juga kaualami.

Sekali lagi, setelah beberapa hal kualami, aku sama sekali tidak tahu mimpi macam apa yang kau miliki. Kusimpulkan saja secara sembarangan, bahwa kau ingin melihat wajah Tuhan. Ya, bukankah itu adalah mimpi (cita-cita) paling tinggi?

Jika benar demikian, aku hanya mampu berhenti di tengah jalan. Menghentikan langkah, bahkan berputar arah. Bukan aku tak mau, aku hanya malu. Aku merasa, bahwa: aku, belum sepenuhnya Aku.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

philo shopia

Jingga