Matcha
Di bawah panas terik, seberes makan siang, mereka berdua berjalan beriringan. Tak banyak perbincangan. Sesuai yang mereka rencanakan, sehabis berkeliling menapaki jalan pedestrian, mereka menyusuri trotoar kawasan pecinan untuk mencari kedai es krim yang telah mereka sepakati sebagai tempat menikmati hidangan penutup kali ini. Di kedai es krim dengan bangunan tua bernuansa jadul, mereka berdua duduk berseberangan, dipisahkan meja kayu dengan hanya memesan segelas kecil es krim: vanila dan matcha untuk si pria, vanila dan cokelat untuk si wanita. "Dekorasinya kurang pas sama suasana kedainya, ya?" Ucap si wanita berusaha mencairkan suasana sembari mengedarkan pandangannya ke tiap penjuru kedai. "Iya, terkesan dipaksakan." Timpal si pria, matanya mengikuti pandangan si wanita. Secara acak, si wanita begitu saja menanyakan ini dan itu. Si pria, yang tidak merasa aneh dengan ketidakterdugaan si wanita, menjawab sekenanya dengan ekspresi datar seperti biasanya. Perbincan...