Posts

Showing posts from April, 2024

Jingga

Hujan sedari senja belum juga mereda, seirama dengan air mata yang masih mengalir getir di pipi kemerahan wanita yang kini masih mengurungdiri di kamar miliknya. Baru kali ini Ia alami hal semacam ini, tangis yang meledak, dada yang sesak. Patah hati. Ya, ini adalah patah hati pertamanya. Patah hati yang diakibatkan oleh ekspektasinya sendiri: Ia mengira, lelaki yang selama ini menjadi muara kasih—maupun keluh kesahnya itu, akan menjadi tokoh utama yang bersanding bahagia dengannya seperti dalam cerita di novel favoritnya. Ia merasa bersalah sekaligus kecewa kepada dirinya sendiri karena telah dengan mudahnya menaruh hati. Padahal mulanya, Ia selalu mampu menghindari ketukan pintu hati dari sembarang lelaki. Sampai pada kejadian yang tak akan pernah Ia lupakan, pertemuan dengan seorang lelaki yang rela Ia labuhkan hatinya pada sosok itu, Jingga. Tidak ada yang istimewa dalam pertemuan ia dengan Jingga, hanya hal sederhana berupa saling tatap mata dalam gerbong kereta yang saat itupun t...