Kita Yang Belajar Melupa Lewat Luka
Hari ini kau berulang tahun, begitu yang kutahu dari media sosialmu. Ya, cukup banyak yang aku lupa tentangmu—karena sudah begitu lama kita tak berjumpa, apalagi hanya saling bertegur sapa dan bertanya kabar—lewat pesan singkat. Entah angin dari mana yang dengan kekurangajarannya membawa hasratku belakangan ini untuk rutin mencari kabar tentangmu atau sekadar memandang bayangmu lewat khayalku. Entah kali ini ulah siapa yang membuatku kembali memikirkanmu, menaruh perhatian lebih padamu. Ya, aku mencoba untuk tidak menyalahkan maupun sekadar mengaikatkan semua hal—yang terjadi—pada semesta. Selain karena aku yang memang merasa bosan dengan itu, juga karena kau yang tak mau kita—selaku manusia— serampangan menyalah-nyalahkan semesta tanpa pernah berkaca bahwa kitalah yang tak pernah mau tunduk pada aturan sang maha kuasa. Kulihat potretmu di ujung sana, membuatku kembali terpana. Matamu lagi-lagi membikin senyumku merekah, juga membikin lisanku kelu hingga hanya mampu berucap kata ...