Cerita ini singkat, aku menaruh rasa padamu, tapi kubiarkan berlalu karena tahu kau tengah ingin berjalan sendirian—menuju Tuhan.
Apa kabar? Bukan Bukan kamu Apa kabar mimpi-mimpimu? Sudahkah kau wujudkan? Atau hanya menguap dalam angan-angan? Itu kira-kira pembuka surat yang akan kutulis untukmu (yang kukutip dari salah satu sajak dari Suar Aksara berjudul 'Apa Kabar?') jika ruang dan waktu masih saja kurang ajar memisahkan aku dan kamu sampai jauh dan lamanya begitu. Satu-satunya alasan yang membuatku mempertanyakan hal demikian adalah kecemburuan. Cemburu terhadap mimpimu. Bagaimana bisa seseorang begitu bergairahnya menjalani hidup dan melupakan kesenangan yang ada di depan matanya hanya demi sebuah mimpi? Ya, meski kita sama-sama tahu, kesenangan yang ada di depan kita saat ini juga tidak pernah nyata adanya. Tapi kita juga sama-sama tahu, hanya orang-orang tidak sadarlah yang hanya hidup dalam mimpi (meski pula, hanya orang-orang tidak sabarlah yang menganggap mimpi ini sebenar-benarnya kehidupan nyata). Aku tidak pernah tahu mimpi semacam apa yang kaumiliki. Aku juga tidak pernah mengira ia ...