Dialog Pria dan Wanita
"Di sini, kusediakan berbagai macam kepahitan. Tinggal kaupilih, kepahitan mana yang ingin kautelan?" Ucap pria yang tengah memperlihatkan beberapa toples biji kopi yang tersusun di atas rak dinding dengan tangannya—selayaknya pramuniaga profesional.
"Okey, ternyata bukan hanya di media sosial saja ya kau bersajak demikian?" Timpal wanita di depan pria itu sembari mengedarkan pandang ke tiap penjuru, mencari sesuatu. "Sepertinya aku lupa memberitahumu kalau minumanku adalah teh." Ucapnya setelah merasa yang dicarinya tak tersedia di rak dinding yang menempel di dinding teras rumah yang lebih terlihat seperti kedai kopi.
"Duh, kenapa aku juga gak kepikiran nanya soal itu, ya? Dasar, asal ajak saja." Gerutu pria yang memiliki janggut lebat di dagunya itu.
"Huh, ya sudah. Susu cokelat hangat sepertinya enak." Ucap wanita bermata cokelat itu sembari menunjuk satu bungkus kecil kental manis di antara barisan pelengkap makanan ringan yang juga tersedia untuk menemani meminum kopi.
"Hehe, siap!" Timpal pria itu setelah mengikuti arah pandang sang wanita dengan senyum, malu. "Kau tunggu saja di atap. Sejauh ini, di situ tempat terbaik untuk menyesap." Tawar si pria sembari menunjuk tangga menuju atap dengan tangannya.
"Okey"
Sembari menunggu kenalan barunya menyajikan minuman, sang wanita berjalan-jalan di teras, melihat sekeliling, kemudian menaiki tangga.
Nuansa kedai kopi kekinian dengan tumbuhan merambat di atap kaca, membuat hati wanita itu terasa hangat. Ia juga sedikit keheranan, sebagai penulis, kenapa pria itu tidak memajang kata-kata miliknya atau milik orang lain di sudut-sudut tempat itu.
"Tempatmu oke juga ternyata," puji wanita itu setelah sang pria tiba dan meletakkan dua cangkir kehangatan beserta sepiring kue kering di atas meja kayu di antara mereka.
"Terima kasih atas pujian yang membuatku tak merasa sia-sia telah merenovasi besar-besaran rumah yang hanya untuk memenuhi hasratku ini." Ucap pria itu yang tak bisa menahan sipu malu di wajah garangnya. "Sembari menyesap minuman, kau akan disuguhi matahari terbit di sebelah sana." Tambahnya sembari menunjuk ke ufuk timur, "dan tentu saja matahari tenggelam di sebelah sana." Tangannya menunjuk ke ufuk sebaliknya.
"Dari dua suguhan matahari itu, kau cenderung menyukai yang mana?" Tanya wanita itu yang mulai menyeruput susu cokelat hangatnya.
"Karena aku tergolong orang yang susah bangun pagi, itu membuatku selama ini hanya punya kesempatan menikmati matahari tenggelam. Jadi, kurasa kau tahu jawabannya." Timpal si pria yang juga mulai menyeruput kopi meski ia ludahi kembali karena lupa kopi di cangkir miliknya belum pas, masih panas.
"Hei, hei. Sabar, sabar." Replek wanita itu sembari tertawa keras melihat kekonyolan pria di bangku sebelahnya. "Anda gugup, ya?" Godanya.
"Sialan." Serapah lelaki itu.
"Jadi, kau memilih sesuatu hanya karena ia lebih sering kau lihat? Selalu ada dengan jarak yang dekat?" Tanya wanita itu.
"Seriusan? Nanya beginian?" Lelaki itu kelabakan.
"Penasaran aja." Wanita itu mulai mengambil kue kering di piring, kemudian digigitnya sedikit demi sedikit.
"Penasaran? Alasan macam apaaa itu?" Timpal si lelaki yang akhirnya tetap membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan yang belum pernah ia dengar dari siapapun yang ia kenal. "Yaa, seringkali kita memang begitu, bukan? Memilih sesuatu yang jelas-jelas ada di depan mata? Lagian, bukankah itu suatu bentuk rasa syukur?"
"Bentuk rasa syukur atau bentuk rasa ketidaksabaran?" Sanggah wanita itu.
"Waduh, angel iki, angel, berat." Pria itu mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Hahaha. Santai santai. Serius amat?"
"Kau sendiri, mana yang lebih kausukai? Matahari terbit atau matahari tenggelam?" Tanya pria itu, terbawa rasa penasaran.
"Karena aku morning people, pasti kau tahu jawabannya. Haha" seloroh wanita itu.
"Nyindir, mbaak?"
"Haha, maaf, maaf. Tapi jujur, aku itu suka keduanya. Ya mungkin karena aku suka sesuatu yang membuat mereka ada."
"Matahari?"
"Nope, C-A-H-A-Y-A."
"Kenapa cahaya?"
"Hmm, aku belum menyiapkan jawaban filosofisnya tentang ini. Mungkin nanti kuceritakan lagi."
"Lah, ya sudah."
Comments
Post a Comment