Cahaya
Enam tahun berlalu, doaku masih saja tentangmu.
Pernah satu waktu, rindu tak dapat lagi kurayu. Ia menyeruak, membuncah, seenaknya. Jiwaku tenggelam oleh luapannya, lisanku terpaksa—atau malah sukarela—menyebut-nyebut namamu yang indah itu, Cahaya. Hampir saja Tuhan, sang maha pencemburu, mencemburuimu jika tak segera kujelaskan bahwa rinduku padamu adalah wujud kerinduanku pada-Nya. Ya, ketika aku mengingatmu, aku mengingat-Nya. Karena lewat dirimu, aku mengenal diriku—yang mengantarkanku mengenal Tuhanku.
Kau tahu? Hatiku selalu bergetar acap kali lisan menyebut namamu. Setiap huruf dari namamu, aku bayangkan akan bernilai pahala. Karena untukku, menyebut namamu berarti menyebut nama Tuhan. Tidak salah, kan?
Aku menyebut rasa ini sebagaimana orang-orang menyebutnya, cinta. Namun, tidak ada cinta yang dibenarkan kecuali hanya untuk-Nya. Maka, lagi lagi harus kukatakan, segala yang aku punya untukmu, sejatinya hanya untuk-Nya. Begitu juga cinta.
Pada satu waktu, aku lupa diri, yang berarti pula aku lupa Tuhanku. Entah bagaimana bisa aku pun turut melupakanmu, Cahaya yang selalu kutuju. Kelupaan akan diriku ini mengantarkanku pada tempat tergelap (meski aku tidak yakin kalau itu masih disebut tempat), jauh darimu, kehilanganmu, atau sekadar terhalang sesuatu.
Saat aku lupa akan adanya dirimu sebagai alamat rindu, aku ke sana ke mari selayaknya mencari sesuatu yang hilang namun aku sendiri pun tak tahu apa yang sedang dicari. Aku hilang arah.
Pada akhirnya, aku mengaku, terlalu mengaku-aku terhadap sesuatu yang bukan hakku. Itu menyadarkanku tentang aku, kamu.
Kini, kembali kutemukan diriku, yang berarti pula kutemukan dirimu. Meski, kau masih di sana, tak tergapai, tidak sampai aku menjadi dirimu, Cahaya, Rindu.
Comments
Post a Comment