Kita Yang Belajar Melupa Lewat Luka

Hari ini kau berulang tahun, begitu yang kutahu dari media sosialmu. Ya, cukup banyak yang aku lupa tentangmu—karena sudah begitu lama kita tak berjumpa, apalagi hanya saling bertegur sapa dan bertanya kabar—lewat pesan singkat.

Entah angin dari mana yang dengan kekurangajarannya membawa hasratku belakangan ini untuk rutin mencari kabar tentangmu atau sekadar memandang bayangmu lewat khayalku. Entah kali ini ulah siapa yang membuatku kembali memikirkanmu, menaruh perhatian lebih padamu. Ya, aku mencoba untuk tidak menyalahkan maupun sekadar mengaikatkan semua hal—yang terjadi—pada semesta. Selain karena aku yang memang merasa bosan dengan itu, juga karena kau yang tak mau kita—selaku manusia— serampangan menyalah-nyalahkan semesta tanpa pernah berkaca bahwa kitalah yang tak pernah mau tunduk pada aturan sang maha kuasa.

Kulihat potretmu di ujung sana, membuatku kembali terpana. Matamu lagi-lagi membikin senyumku merekah, juga membikin lisanku kelu hingga hanya mampu berucap kata "indah". Ah, sialnya.

Kulihat pula sikapmu kian dewasa, menyikapi sesuatu tidak lagi hanya mengandalkan rasa. Seperti tempo hari, kau bertanya "dalam tulisanmu, apakah masih kaujadikan aku tokoh utama?" jujur saja iya. Bagaimana tidak? Rasa bersalahku pada hatimu belum juga reda, sedang maafmu belum pernah sekalipun membikin dadaku lega. Di sinilah hebatnya wanita, menjadi tangguh setelah runtuh diterpa badai luka.

Di ujung perbincangan itu, kau meminta sesuatu padaku "bersediakah kau melupa?" Tentu saja tidak, batinku berkata. Bagaimana aku bisa melupa, setelah dengan sengaja membuat hatimu terluka? "Bolehkah kita bertingkah seolah-olah di antara kita tak pernah terjadi  apa-apa?" Bisa saja, ucap lisanku semata. Ya, lisanku memang begitu, lancar berkata-kata yang tak sesuai fakta. Mungkin karena itu, hubunganku denganmu selalu buntu. Dan karena itu, aku masih saja mengharapkanmu. Di sinilah payahnya lelaki, baru menyesali setelah yang diingini tak akan pernah mungkin kembali.

Aku muak jika harus mengatakan "pada akhirnya"  lagi, sebab aku belum benar-benar berdamai dengan diri sendiri. Aku juga tak ingin pada setiap cerita tentang aku dan kamu selalu berujung pilu. Maka dari itu, agar penutup cerita ini sedikit lebih manis, aku meminta: bolehkah aku tetap mengalamatkan rindu padamu, segara rinduku?

Comments

Popular posts from this blog

Cerita ini singkat, aku menaruh rasa padamu, tapi kubiarkan berlalu karena tahu kau tengah ingin berjalan sendirian—menuju Tuhan.

philo shopia

Jingga