Matcha

Di bawah panas terik, seberes makan siang, mereka berdua berjalan beriringan. Tak banyak perbincangan.


Sesuai yang mereka rencanakan, sehabis berkeliling menapaki jalan pedestrian, mereka menyusuri trotoar kawasan pecinan untuk mencari kedai es krim yang telah mereka sepakati sebagai tempat menikmati hidangan penutup kali ini.


Di kedai es krim dengan bangunan tua bernuansa jadul, mereka berdua duduk berseberangan, dipisahkan meja kayu dengan hanya memesan segelas kecil es krim: vanila dan matcha untuk si pria, vanila dan cokelat untuk si wanita.


"Dekorasinya kurang pas sama suasana kedainya, ya?" Ucap si wanita berusaha mencairkan suasana sembari mengedarkan pandangannya ke tiap penjuru kedai.


"Iya, terkesan dipaksakan." Timpal si pria, matanya mengikuti pandangan si wanita.


Secara acak, si wanita begitu saja menanyakan ini dan itu. Si pria, yang tidak merasa aneh dengan ketidakterdugaan si wanita, menjawab sekenanya dengan ekspresi datar seperti biasanya. Perbincangan pun lebih didominasi si wanita, yang nampak senang sekali mengenang hal-hal lucu yang dialaminya belakangan ini.


"Nan, aku mau ngomong sesuatu." Ucap si pria di tengah tawa lepas si wanita.


Wanita itu pun menghentikan tawa bahagianya, mempersiapkan kupingnya baik-baik. Ia mafhum, tanpa ditanya kembali, pria di depannya akan langsung berbicara ketika ia diam memperhatikan. Namun langit mulai menampakkan kemuraman, mengalihkan perhatian wanita itu dari pria di depannya, "tanda akan tibanya hujan" gumamnya.


"Sepertinya ... Kita cukup sampai di sini." 


Bagaikan guntur, ucapan dari mulut pria itu barusan cukup mengagetkan si wanita. Ia pun hanya bergeming, memandangi langit, berharap yang mengagetkannya adalah guntur dan kilat.


"Aku masih terjebak masa lalu."


Pada tembok kusam di belakangnya, wanita itu ingin sekali menyandarkan tubuhnya yang terasa begitu lemas seperti dibanting begitu keras.


"Gak apa apa?" Tanya pria itu pada wanita di depannya yang hanya diam tanpa berkomentar apa-apa.


"Nan?" Tanya pria itu lagi.


"Hmm" balas wanita itu pura-pura tak mendengar ucapan si pria barusan.


"Gak apa-apa?"


"Iya, gak apa-apa." Jawab si wanita yang mulai menyembunyikan air mukanya.


Senja tiba, awan yang sedari tadi mendung mulai menumpahkan air kehidupan. Sepasang manusia di sudut kota, mulai larut dalam kebisuan. Pria dan wanita yang cukup aneh memang, seperti tanpa beban, dengan mudahnya memutuskan sebuah hubungan. Padahal, yang akan mereka temui nantinya adalah sebuah kehilangan.






Comments

  1. Sebuah kalimat yang tidak ingin di dengar oleh semua pasangan, tetapi pepatah mengatakan " Jika ada pertemuan pasti akan ada perpisahan "😔

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cerita ini singkat, aku menaruh rasa padamu, tapi kubiarkan berlalu karena tahu kau tengah ingin berjalan sendirian—menuju Tuhan.

philo shopia

Jingga