Es Krim

Lagi, senja menjadi waktu yang tepat untuk sejenak rehat dari rutinitas padat yang membikin penat.


Pula, senja menjadi waktu yang indah untuk sekadar merebah.

Hanya saja, sedikit berbeda senja yang mereka berdua dapati di kota hujan. Bukannya semburat jingga keemasan, apalagi merah merona yang menawan, yang mereka dapati hanyalah guyuran hujan yang membuat mereka terjebak lebih lama dalam kebisuan.

Es krim yang mencair di atas meja kayu yang terletak di antara mereka berdua tak menandakan adanya kehangatan. Musik yang mengalun pelan, suasana ruko kuno--ketinggalan zaman--yang muram, turut serta membawa jauh lamunan.

"Hampir larut, aku harus pulang." Ucap wanita yang duduk membelakangi tembok kusam sembari tetap menatap guyuran hujan yang memburu pedestrian.

"Masih hujan," Ucap lelaki di seberang wanita yang mengenakan pakaian bernuansa monokrom itu "Tak masalah?"

"Sama sekali enggak" ucap wanita itu setengah kagok menata bahasanya.

"Baiklah. Boleh kuantar?" Tawar lelaki itu sedikit ragu.

Sembari membereskan wadah es krim, wanita yang ternyata sedikit lebih tinggi dari lelaki itu menyilakan.

Dalam guyuran hujan yang tanggung, mereka susuri trotoar. Sesekali mereka harus meloncat-loncat demi menghindari genangan air, sesekali pula mereka berlari kecil karena awan yang nampak ragu atau mungkin malu-malu menumpahkan beban yang dipikulnya.

Di depan Lawang Suryakencana, mereka menaiki angkutan kota yang tengah menunggu penumpang. Ya, mereka tidak membawa kendaraan pribadi yang entah itu sepeda motor atau mobil untuk melaksanakan rencana sederhana mereka berupa memakan es krim bersama.

Angkutan umum yang mereka tumpangi ternyata masih menyisakan banyak ruang. Hanya berisi satu penumpang di bangku depan beserta supir. Mereka berdua memilih duduk di bangku bagian belakang dekat jendela yang sering membikin pengendara motor di belakang angkutan kota dibuat salah tingkah ketika lalu lintas tengah macet atau sekadar lampu merah.

Di tengah kebisuan dalam perjalanan, wanita itu menyentuhkan jarinya pada kaca jendela angkutan kota yang berembun, menulis nama atau entah apa, mungkin karena bosan. Si lelaki hanya terpaku memerhatikan.

Selama perjalanan, tak ada obrolan hangat atau sekadar basa-basi yang terlontarkan. "Kenapa lama sekali kendaraan ini?!" Begitu sepertinya protes mereka jika melihat gelagat mereka yang tak henti-hentinya memerhatikan jalan dan jam tangan.

"Kiri" tegur wanita itu pada supir angkutan kota, memecah keheningan "Sampai sini aja, ya, nganternya?" Ucapnya pada lelaki di seberang tempat duduknya yang tengah hanyut dalam lamunan dengan kekagokan yang sama.

"Gak apa-apa?" Tanya lelaki itu, memastikan.

"Iya, gak apa-apa." Jawab wanita itu sembari turun dari angkutan kota yang mereka tumpangi sedari tadi.

"Ongkosnya sekalian aku yang tanggung." Sedikit berteriak lelaki itu berujar.

"Oh, oke. Makasih." Timpal wanita itu dengan sedikit mengangkat tangan, tanpa senyuman, melambai pelan.

Masih dalam angkutan kota, lelaki itu memerhatikan wanita itu menyeberang jalan, memasuki gang.

"Senja dan hujan, terima kasih atas kerja sama kalian." Ujarnya sembari tersenyum, penuh kegetiran.


Comments

Popular posts from this blog

Cerita ini singkat, aku menaruh rasa padamu, tapi kubiarkan berlalu karena tahu kau tengah ingin berjalan sendirian—menuju Tuhan.

philo shopia

Jingga