Residu Kenangan
Kukira, kisahku denganmu kala itu akan begitu saja (berakhir) menguap dan larut terseduh waktu. Ternyata, serbuk kenangan—sisa residunya—diam-diam membatu dalam gelas ingatan milikku. Entah ini karena aku yang tengah bosan dan kelelahan menempuh perjalanan kehidupan ini sendirian, atau aku yang memang tak pernah sungguh-sungguh meniadakan bayangmu dalam ingatan.
Mengecap kenangan tentangmu selalu membuahkan rasa manis, walau klimaks dari rasanya selalu berakhir tragis. Meski sudah banyak kutambahi gula, rasanya tetap saja sama. Pada kesempatan lain kutambahi asin garam kehidupan, hal itu malah membuatku kehausan.
Pengandaian demi pengandaian menerobos masuk dalam pikiran: andai waktu itu begini ... Andai waktu itu begitu.
Memang sempat satu kali kauberikan padaku kesempatan. Sialnya, jarak dan waktu selalu saja jadi hambatan. Ah, atau mungkin aku yang memang terlalu banyak alasan.
Lewat batu-batu kenangan, kucari-cari letak kesalahan. Kutemukan diriku si sosok manusia ceroboh, penuntut dan tak pernah mau mendengarkan. Diriku yang merasa diri sebagai pusat semesta, begitu mendewakan semuanya tertata. Aku pun pernah diam-diam menuntutmu dewasa, mengharapkanmu demikian dan demikian. Padahal (dalam kesadaranku saat ini), menuntutmu ini dan itu sebenarnya hanyalah sikap kekanak-kanakan. Akibatnya, harus kutanggung beratnya rasa kehilangan.
Dan kini, di sudut kesunyian ditemani segelas kenangan dan harapan, yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah meneguk kerinduan.
Mangatsee kak!!
ReplyDelete