Hilangnya Senja
Tegukkan kopi di cangkir favoritnya pagi itu mulai terasa hambar, seiring dengan pusing yang menusuk-nusuk kepalanya selepas bangun tidur pagi buta tadi yang kini kian mereda. Semburat sinar matahari pagi dari ufuk timur yang menerobos mengenai wajahnya lewat jendela membuyarkan lamunannya, pupil mata yang seharusnya mengecil—malah membesar karenanya. Ia terpesona, ia jatuh cinta.
Selepas melakukan rutinitas paginya, sesuai rencana, ia mengunjungi pemakaman kakek-neneknya di pinggiran kota, tempat yang tepat untuk hidup hingga akhir hayat, atau sekadar melepas penat.
Ia, Senja, ditinggal mati orangtuanya selepas kecelakaan lalu lintas ketika ia masih seorang gadis remaja manja—yang turut mengakibatkan matanya kehilangan salah satu fungsinya, melihat warna.
Selepas peristiwa yang membuat orangtuanya tiada, oleh kakek-neneknya ia dibesarkan di pinggiran kota. Diajarinya menjadi dewasa.
Beranjak dewasa, kakek-neneknya mati tenggelam karena perahu yang bocor ketika tengah melakukan peringatan hari pernikahan mereka di tengah lautan berhias cahaya jingga matahari terbenam yang dirayakan setiap tahunnya.
"Hei, orang tua, aku punya cerita!" serunya selepas menaruh bunga mawar hitam di atas makam kakek-neneknya sembari memperagakan kembali gaya bicaranya semasa remaja dahulu ketika hendak bercerita kepada mereka tentang kejadian yang dialaminya. "Tadi pagi aku melihat matahari terbit. Ya, aku benar-benar melihatnya, tentunya dengan warna yang tidak seperti yang aku lihat biasanya. Ternyata begitu indah seperti yang sering kalian ceritakan padaku—walau aku tak tahu betul apakah keindahan yang aku lihat adalah keindahan sebenarnya atau mungkin aku terlalu melebih-lebihkan apa yang aku lihat," tuturnya sambil mengusap air mata di ujung matanya yang indah "ya, lagipula , apa yang katanya terlihat indah, nyatanya di mataku semuanya tetap sama saja, bukan?"
Tak terasa, senja tiba, pusing yang menusuk-menusuk kepala kembali ia rasai. Ia pun beranjak pergi, lalu mampir ke salah satu kafe untuk sekadar minum secangkir kopi.
Di pojok kafe, ia melihat lautan lepas dengan sinar matahari senja yang baginya hanya potret hitam putih tak karuan yang juga mengingatkannya pada kematian kakek-neneknya dahulu. Buru-buru ia tutupi jendela yang hanya menambah rasa pusing di kepalanya saja dengan tirai yang ada. Ia pun membuka tas yang dibawanya dan mengambil buku untuk kemudian dibacanya.
Kopi pesanannya tiba dibawa barista yang ia mintai untuk membuatkannya kopi di meja pemesanan sebelumnya. Kehadiran si barista cukup menambah rasa pusing dan mengusik kekhusyukannya dalam membaca dan menikmati kopi di hadapannya karena memaksanya untuk bicara. Ia pun menimpali sekenanya yang mengakibatkan si barista beranjak pergi.
Karena dirasa kopi yang ia minum tak mampu mengurangi rasa pusing di kepalanya, ia memutuskan pergi dengan menaruh uang di meja sebagai bayaran kopi yang dipesannya.
Sekeluarnya dari kafe, rasa pusing di kepalanya makin menjadi-jadi, semuanya pun mulai terasa memudar, gelap. Ia mencari cahaya, dan hanya mendapati satu cahaya jauh di ufuk barat—lalu mengikutinya. Cahaya di ufuk barat itu mulai memudar, ia pun bergegas, berlari, dan terus berlari seakan takut cahaya yang ditangkap matanya pergi.
Masih berlari, kakinya merasakan hangatnya air, basah. Tapi tak ia hiraukan. Ia terus berlari mengejar cahaya yang makin memudar, masih terus berlari sampai langkahnya mulai terasa berat karena air yang merendamnya ia kira air tinta, hitam, legam. Tanpa peduli—ia tetap melangkahkan kaki.
Cahaya yang ia kejar terus memudar, sedang badannya mulai terendam. Ia mencoba berenang. Namun ia tak bisa.
Sia-sia.
Ia terlambat.
Cahaya telah lenyap.
Dan ia mati—tenggelam dalam gelap
Comments
Post a Comment