Arunika
Di tengah gulita, menggunakan perahu kayu, dua nelayan menyusuri lautan mencari pukat yang telah mereka sebar beberapa jam sebelumnya. Karena tak ada rembulan—begitu pula rasi bintang—hanya berbekal cahaya dari petromaks kecil, mereka terus mencari pukat mereka di tengah laut gelap yang pekat, kemudian menemukannya.
Sudah berbulan-bulan kota itu kehilangan sumber cahaya. Di waktu tersebut, orang-orang yang tinggal di kota itu harus hidup dalam gelap. Di bulan pertama, mereka mulai beradaptasi setelah menemukan sumber cahaya dari api. Di bulan-bulan berikutnya mereka mulai mencari penyebab terjadinya peristiwa yang terjadi di kota mereka, kehilangan cahaya. Namun bulan demi bulan telah dengan sia-sia mereka habiskan. Mereka pun putus asa. Kemudian sibuk kembali ke pekerjaan masing-masing mereka, meski tanpa cahaya yang membawa mereka ke kehidupan sebenarnya.
"Hey, orang tua, soal kejadian ini masih belum ketemu penyebabnya, ya?" tanya si Nelayan Muda ketika mulai mangangkut pukat yang sudah mereka temukan.
"Hmm" jawab Nelayan yang lebih tua di hadapannya.
"Kok bisa, ya, kejadian seperti ini terjadi?" Nelayan Muda bertanya-tanya.
Nelayan tua hanya bergeming.
"Sebenarnya aku pernah mengalami kejadian seperti ini di kampung halamanku sewaktu aku seumuranmu dulu." ujar Nelayan Tua memecah keheningan di tengah penarikan pukat.
"Sungguh?" Nelayan Muda bertanya.
Nelayan tua bergeming sejenak, kemudian berujar "Hanya saja, yang terjadi di sana waktu itu sepertinya tidak semengerikan yang terjadi di sini."
"Tolong ceritakan peristiwa yang terjadi di kampung halamanmu." pinta Nelayan Muda.
"Hmm, sebentar." Nelayan tua mengubah posisi duduknya karena pukat yang mereka angkat mulai memenuhi isi perahu.
"Huh, tangkapan kita malam ini pasti banyak sekali. Kau merasakan beratnya, kan?" ujar Nelayan Tua.
"Ah, sudahlah, lupakan dulu soal ikan. Aku ingin mendengarkan ceritamu itu."
"Ahaha, dasar bocah tidak sabaran." komentar Nelayan Tua sembari tertawa.
"Baiklah. Begini, sesuai apa yang aku lihat dan aku dengar, ketika itu, di suatu senja yang damai, orang-orang dikejutkan oleh hilangannya senja secara tiba-tiba. Bukan hanya keindahan matahari terbenam, laut beserta isinya pun ikut menghilang."
"Tunggu, tunggu, tadi kau bilang peristiwa yang terjadi di sini lebih mengerikan dari peristiwa yang terjadi di kampung halamannmu dulu? Tapi sepertinya yang terjadi di kampung halamanmu lebih mengerikan dari yang terjadi di kota ini." sergah Nelayan Muda.
"Bocah ini. Aku belum selesai dengan ceritaku!"
"Baik, baik. Lanjutkan." ujar Nelayan Muda sembari terkekeh.
"Hah, dasar." dengus Nelayan Tua dengan melihat Nelayan Muda lewat ujung matanya. "Ehm" deham Nelayan Tua sebelum melanjutkan ceritanya.
"Setelah hilangnya senja dan segala keindahan yang menyertainya, orang tuaku—yang seorang nelayan—kehilangan mata pencahariannya. Hingga kami pun memutuskan untuk pindah, mencari pinggiran kota yang nyaman dan aman bagi nelayan. Dan kami menemukan tempat itu di sini. Namun sialnya, peristiwa semacam di sana kualami lagi di sini"
"Kau tahu apa penyebabnya?" tanya Nelayan Muda lagi.
"Sebentar, pukat ini mulai terasa berat. Coba fokus untuk mengangkat pukatnya terlebih dahulu!"
Pukat yang mereka angkat mulai mencapai tepinya. Kegirangan yang nampak di wajah Nelayan Tua tiba-tiba saja sirna begitu mengetahui yang ia dapat hanya sebuah tas dengan penuh lumut.
Karena kesal dengan apa yang didapatnya, Nelayan Tua langsung mengambil tas tersebut dan hendak membuangnya. Berbeda dengan Nelayan Muda yang kegirangan melihat benda yang sudah sejak lama ia inginkan. Ia pun mencegah Nelayan Tua membuangnya, lalu memintanya.
"Oh, iya, hampir saja lupa. Kau tahu penyebab terjadinya peristiwa di sana, kampung halamanmu?" tanya Nelayan Muda yang tengah menilik-nilik tas yang dipegangnya dengan teliti.
"Hmm" gumam Nelayan Tua sembari sedikit mengingat-ngingat "Kudengar peristiwa yang terjadi di sana terjadi karena ulah seseorang yang mencuri senja untuk diberikan kepada kekasihnya. Ah, nanti lagi saja lah aku menceritakannya. Kita harus segera ke daratan, api petromaksnya tak lama lagi padam. Aku lupa membawa minyak cadangan."
"Dasar orang tua pelupa!"
"Aku lupa juga karena kau, bocah tidak sabaran!"
Nelayan Muda terkekeh mengingat kesalahannya.
Sesampainya mereka di daratan, Nelayan muda yang sedari awal penasaran ingin membuka tas yang didapatkannya tadi, kemudian langsung membukanya, dan hanya mendapati sebuah buku di dalamnya.
"Hey, orang tua! Kau bisa membaca, kan? Tolong bacakan buku ini untukku. Aku ingin tahu apa yang tertulis di dalamnya." pinta Nelayan Muda.
"Sebesar ini kau belum bisa membaca?" ucap Nelayan Tua sembari menunjuk perawakan Nelayan Muda "Pasti hidupmu hanya dihabiskan untuk bermain."
Nelayan Muda hanya terkekeh.
"Baiklah. Mana bukunya? Ini, bereskan pukatnya." ujar Nelayan Tua sembari menyodorkan pukat.
"Hmm" gumam Nelayan Tua setelah dengan hati-hati membolak-balik buku basah di tangannya. Dahinya mengerut. Dan sesekali tengah mengingat-ingat sesuatu, melihat ke ufuk barat yang gelap, lalu tenggelam dalam lamunan.
Karena Nelayan Tua belum juga membacakan buku yang dipegangnya, Nelayan Muda pun kesal.
"Kau bisa membaca atau tidak, sih, sebenarnya?" gerutu Nelayan Muda.
Seakan baru tersadar dan teringat sesuatu, Nelayan Tua langsung menatap mata Nelayan Muda dengan tatapan yang menandakan kengerian. Kemudian ia berucap "Kau tahu kenapa aku berkata kalau peristiwa di sini lebih mengerikan dari yang pernah terjadi di kampung halamanku?"
"Justru sedari tadi aku menunggumu bercerita! Dasar orang tua!" protes Nelayan Muda.
"Begini" ujar Nelayan Tua. "Kau tahu cerita tentang Arunika dan Senja?"
"Sudahlah, ceritakan saja. Kau kan tahu sendiri kalau orangtuaku sudah lama mati, mana ada yang menceritakan cerita itu padaku." gerutu Nelayan Muda.
"Dahulu, katanya, terdapat si kembar bernama Arunika dan Senja." Nelayan Tua memulai cerita. "Mereka adalah ciptaan Tuhan yang dianugerahi keindahan dan kehangatan. Meski kembar, mereka hidup di tempat dan masa yang berbeda. Di tempat dan masa yang berbeda itu, terhadap mereka, banyak yang menaruh hati."
"Suatu ketika, Arunika cemburu terhadap Senja karena keindahan dan kehangatan yang dimilikinya tak seperti milik Senja—yang menghanyutkan jiwa.
"Hingga niat buruk pun hinggap di kepala Arunika, yakni melenyapkan Senja.
"Mula-mula ia mengarang cerita, menfitnah, menunjukkan keburukan-keburukan perihal Senja terhadap siapa saja yang ada, agar tak ada lagi yang menaruh rasa.
"Siapa sangka, siasat Arunika berhasil. Senja mulai dibenci.
"Senja mulai banyak merenung, bersedih, memudarkan keindahan dan kehangatan yang dimiliki. Hingga suatu saat ia pergi, lalu mati."
"Duh, aku belum mengerti hubungan antara cerita Arunika Senja dengan peristiwa yang terjadi di sini. Coba tolong jelaskan, wahai orang tua." ujar Nelayan Muda.
"Belakangan aku curiga, kalau cerita Arunika Senja bukanlah cerita perihal cinta." ujar Nelayan Tua.
"Lalu perihal apa?" tanya Nelayan Muda.
"Aku merasa kalau cerita itu adalah sebuah gambaran kejadian yang akan datang." jawab Nelayan Tua.
"Ramalan? Kejadian apa yang akan datang?" tanya Nelayan Muda lagi.
"Entahlah. Menurut ceritanya bahwa posisi keberadaan Senja sebelum hilang dan mati akan digantikan oleh Arunika. Dan katanya 'Arunika lupa, bahwa jika Senja tiada, ia juga akan binasa—bersama yang dicintai dan mencintainya'".
Sementara itu, seberkas cahaya muncul di ujung kejauhan, ufuk barat.
Dua nelayan itu menyaksikannya dengan saksama dan memastikan bahwa cahaya di ujung kejauhan itu adalah matahari. Nelayan Muda begitu riang gembira mendapati peristiwa itu. Sedang Nelayan Tua langsung terduduk di atas pasir dan memasang wajah yang menandakan kengerian.
Melihat Nelayan Tua yang terlihat lemas dan pucat, Nelayan Muda begitu saja menyindir "Ah, dasar orang tua, terlalu serius dan berpikir macam-macam soal cerita yang nyatanya hanya rekayasa!"
Comments
Post a Comment