Peristiwa Sebelum Hilangnya Senja

Selepas sebuah peristiwa menimpa pelanggan setianya bulan lalu, ia mulai merasa kehilangan mereka, sepasang kekasih yang tergila-gila dengan senja.

Ia baru sadar, tak ada yang seperti mereka—selama ia membuka usaha kafe di kota itu—yang sebegitu khusyuknya menikmati proses terbenamnya matahari di ufuk barat cakrawala.

Sempat ada keinginan untuk ia tanyakan perihal senja yang membuat mereka tergila-gila. Ia ingin memastikan, apakah senja bagi mereka sama persis dengan senja bagi dirinya.

Kring!

Suara genta di pintu yang menandakan kedatangan pelanggan membuyarkan lamunannya.

Seorang wanita baru saja masuk, dan langsung menuju ke hadapannya.

"Americano satu shot" pinta wanita itu.

Tanpa menunggu jawaban, wanita itu langsung beranjak menuju meja yang terletak di pojok kafe. Meja yang merupakan spot terbaik untuk menikmati suguhan hamparan pantai dan terbenamnya matahari di senja hari.

Melihat gelagat wanita yang memesan kopi barusan, timbul rasa penasaran ketika ditutupnya jendela yang menjadi jalan masuknya sinar matahari keemasan dengan tirai yang biasanya hanya ditutup ketika malam sudah sempurna.

"Ada yang salah dengan pemandangannya?" tanyanya membuka pembicaraan dengan wanita itu—yang tampak tenggelam dalam cerita dari buku yang tengah si wanita baca—sembari menaruh kopi pesanan ke atas meja.

"O, tidak." jawab si wanita ketika menyadari sebuah tanya tertuju padanya, "Hanya bosan dengan pemandangan yang itu-itu saja."

Mendengar ucapan wanita di depannya, ia keheranan. Baru kali ini ia temui seseorang berkata "bosan" pada sebuah keindahan.

"Dulu, ada sepasang kekasih yang menjadikan meja ini sebagai meja favorit mereka." ia berusaha mempromosikan kelebihan yang didapat dari meja yang diduduki si wanita "'Senja begitu tersaji sempurna di sini' kata mereka."

"O, ya?" respon si wanita "Kok, ada yang menikmati senja begitu rupa?" tanya si wanita dengan sinis.

"Mungkin mereka punya kesan mendalam perihal senja" ucap ia.

"Bukankah senja hanya membawa kita pada kegelapan? Sudah barang tentu yang akan kita dapat hanyalah kesedihan, bukan?" timpal si wanita yang mulai menyeruput kopi pesanannya.

"Menurutku," ia mulai menyusun kalimat terbaik di kepalanya "senja itu bukan hanya perihal peralihan waktu. Tapi juga perihal peralihan dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya."

"Nah, berarti, senja itu sebuah kematian, kan?" balas si wanita dengan tanya "Bukankah itu hal yang menyedihkan?"

Ia pun tertohok mendengar balasan si wanita. Karena merasa terpojok, ia akhiri pembicaraan bersama pelanggannya itu dengan mengiyakan pertanyaan dan berkilah untuk melayani pelanggan yang baru datang.

Di meja barista, kembali ia tujukan pandangnya ke arah wanita yang membuat ia berpikir ulang mengenai senja. Senja yang selama ini ia kagumi, begitu saja berubah arti.

Melihat wanita itu hendak pergi, ia buru-buru menghampiri. Bukan karena si wanita belum membayar tagihan, tapi ia ingin menanyakan sesuatu yang mengusik rasa penasaran.

"Hei, boleh aku tahu namamu?" tanyanya setiba di belakang wanita itu.

"Kurasa, kau tak akan suka mendengarnya." si wanita berpaling dan menjawab pertanyaan yang ia yakini tertuju padanya.

"Maksudmu?" ia keheranan.

"Ya, karena namaku adalah hal yang tadi dengan sebegitunya kau kagumi, kini menjadi hal yang mungkin kau benci." ucap wanita di hadapannya, membingungkan.

"Senja?" Ia mengira-ngira.

Wanita di hadapannya hanya tersenyum tipis, lalu memalingkan badan, melangkahkan kaki menuju pintu, dan pergi.

Berbulan-bulan ke depannya, ia selalu menantikan wanita yang pernah membuatnya merasa payah. 

Berbulan-bulan ke depannya pula, semenjak wanita itu tak pernah datang lagi, senja tak lagi menampakkan keindahannya.

Ia pun merasa kehilangan untuk yang kedua-kalinya. Yang membedakan, kali ini ia bukan hanya kehilangan orang-orang berkesan. Tetapi juga kehilangan senja, dan keindahan. 

O, kasihan.








Comments

Popular posts from this blog

Cerita ini singkat, aku menaruh rasa padamu, tapi kubiarkan berlalu karena tahu kau tengah ingin berjalan sendirian—menuju Tuhan.

philo shopia

Jingga