Senja
17.30
Ia telah menunggu selama setengah jam di cafe itu, dan kopi di atas meja pesanannya sudah tidak menarik hasrat untuk ia nikmati meski hanya satu teguk. Kekasihnya belum juga muncul. Sedangkan senja di ufuk sana semakin menunjukkan kepudarannya. Ya, ia ingin menikamti senja bersama kekasihnya di cafe itu untuk kesekian-kalinya. Karena ia berjumpa untuk pertama kali dengan wanita yang kini menjadi kekasihnya saat tak sengaja sama-sama menikmati senja di cafe itu. Menurutku, senja merupakan sebuah peralihan satu kehidupan ke kehidupan lainnya. Dan sebuah keberuntungan jika suatu waktu ada seseorang yang bisa menemaniku menikmati kehidupan lainnya lewat menikmati senja. Ucap kekasihnya kala itu. Dan mereka mulai menikmati senja bersama-sama di hari-hari berikutnya.
Pesan singkat yang ia kirimkan belum juga membuahkan jawaban. Ia enggan melakukan panggilan telepon karena kekasihnya tidak pernah mau bila harus berbicara lewat benda mati. Ah, untuk kali ini saja. Ucapnya setelah mulai merasakan kekhawatiran. Ia langsung melakukan pangggilan telepon menggunakan ponsel genggamnya.
"Sudah di mana?" tanyanya saat terhubung.
"Selamat sore, apakah ini kawan saudari Kalista?" Jawab seseorang di seberang sana.
"Sore, dengan siapa saya bicara? Di mana Kalista?" tanyanya.
"Saya polisi lalu lintas, ingin memberitahukan bahwa saudari Kalista beserta kekasihnya telah mengalami kecelakaan lalu lintas tunggal di jalan persimpangan dekat Kopi Cafe, dan mereka akan dibawa ke rumah sakit terdekat. Kami membutuhkan seseorang untuk bertanggung jawab atas mereka." ucap seseorang di seberang sana.
"Kecelakaan? Baik, saya akan bertanggung jawab untuk mereka, Pak. Saya menuju tempat tersebut sesegera mungkin." Jawabnya sambil menutup panggilan telepon.
Dekat Kopi cafe? berarti dekat cafe ini. Dan, tunggu, kekasihnya? siapa? ucapnya bertanya-tanya sambil meninggalkan cafe itu dengan cemburu di dada.
Di depan cafe yang baru saja ia tinggalkan, ia melihat ada kerumunan orang-orang. Ia mendekat. Ternyata kecelakaan yang diucapkan entah siapa dalam panggilan telepon tadi benar adanya. Ia pun melihat kekasihnya yang tengah tergeletak begitu saja. Ia langsung menerobos kerumunan, anehnya tidak ada satu-orang-pun yang menghalanginya, termasuk polisi-polisi yang tengah menjaga tempat kejadian perkara. Ia dekati kekasihnya yang bersimbah darah. Ia amati lekat-lekat wajah kekasihnya yang terlihat pucat.
"Dia juga mati, napasnya sudah berhenti." kata seorang polisi kepada polisi lain di dekatnya.
"Kenapa ambulan lama sekali!" balas polisi lain.
Ia bergeming mendengarnya. Keinginan menikmati senja bersama kekasihnya begitu saja sirna, terganti kesedihan yang tak pernah oleh siapapun inginkan. Ia marah, matanya nyalang, tangannya mengepal, dan mulai mencari lelaki yang telah menyebabkan hal tersebut terjadi pada kekasihnya. Betapa kagetnya ia ketika lelaki yang ingin ia jadikan alamat tujuan luapan kemarahan, adalah jasad dirinya sendiri. Ia pun terjatuh, kebingungan, tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.
"Zuar..." seketika sayup-sayup terdengar suara yang memanggil namanya. "Zuar... Lazuardi..." suara panggilan tersebut makin terdengar jelas olehnya. Ia pun mencari sumber suara tersebut, dan ketika ia menengok ke belakang, terlihat sesosok wanita tengah berdiri tepat di hadapannya.
"Ka...Kalista?" Tanyanya ragu-ragu.
"Iya, Zuar, ini aku" jawab wanita di hadapanya.
"Bagaimana bisa? Sedangkan kau dan aku..." ucapnya.
"Aku pun tidak mengerti sama sekali. Tapi, ada satu hal yang aku kira bisa kita terima." Ucap wanita itu sambil mendekat "Kau ingat ucapanku waktu pertama kali kita bertemu?" tanya wanita itu.
"Tentu saja aku ingat. O, Tuhan."
"Ya, mungkin saja ini cara untuk menikmati kehidupan yang lain itu. Dengan kematian." jelas wanita itu.
"Lucu sekali" ucap ia.
Mereka pun hanya menertawai tebakan-tebakan tentang yang terjadi pada mereka.
"Ngomong-ngomong, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya wanita itu tiba-tiba.
"Kurasa aku tahu. Ayo!" Jawabnya sigap sambil menggenggam tangan kekasihnya.
"Hei, jangan bilang kalau kita..." protes kekasihnya.
"Ya, kita akan menikmati senja."
Ia pun membawa kekasihnya ke tempat pertama kali mereka berjumpa, menikmati senja, dan menjalani kehidupan lainnya bersama. O, indahnya.
Comments
Post a Comment