Akhir Kisah Yang Tidak Bahagia
Tak ada yang pernah benar-benar mengharapkan adanya perpisahan–sekalipun dibuat menyenangkan selayaknya sebuah perayaan.
Tak ada yang sungguh-sungguh ingin mengucapkan selamat tinggal–karena sadar di hari setelahnya akan dipenuhi oleh rasa sesal.
Tapi, bagaimana jika sebuah perpisahan hanyalah satu-satunya pilihan, setelah sebuah ikatan yang dijalani–dirasa hanya akan membuat saling menyakiti?
Bagaimana jika selamat tinggal adalah satu-satunya kalimat terbaik untuk mengakhiri kisah secara baik-baik?
Jujur, tak pernah sekalipun aku membayangkan akan terjadinya hal seperti ini. Tak lagi berbincang denganmu; tak lagi melihat matamu, senyummu, tawamu; dan tak lagi menjadikanmu tokoh utama dalam kisah hidupku–yang aku rencanakan sebagai tokoh yang akan bersanding bahagia denganku di bagian akhirnya.
Aku memang bodoh, tak menerimamu apa adanya–hingga membuatku menuntut sesuatu darimu. Bodohnya lagi, bukannya kuutarakan maksudku sekaligus menuntunmu untuk mencapai keinginan bersama, aku malah membuatmu merasakan pahitnya patah hati dan meringis sendirian oleh besarnya keegoisan yang aku miliki.
Kisah itu pun semakin rumit setelah kuungkapkan semua maksud dari apa yang telah aku lakukan.
Kau menginginkanku pergi setelah kuminta apa yang harus kuperbuat untuk menebus kesalahan atas apa yang aku lakukan tersebut.
Dengan berat hati, aku pergi. Karena akan terasa percuma jika tetap bersama, tapi kau tak akan pernah merasakan bahagia.
Ingin sekali aku menghapus air matamu dengan tanganku, tapi tanganku sendirilah yang menyebabkan air matamu itu jatuh. Aku pun hanya bisa berdoa, semoga ada yang mampu menghapus air mata itu, dan sekaligus membuatmu bahagia.
Kini, kisah kita menumui akhirnya, walau nyatanya tidak satu pun di antara kita pernah memulainya.
اللهم صل على سيدنا محمد ��
ReplyDelete