Di Hari Bahagiamu: Perpisahan
3. "Hari ini saya mau ke rumah kamu bersama Hadi, lelaki yang pernah saya ceritakan waktu itu." isi pesan dari Ustaz Hari, sebuah pesan yang membuatku cukup kaget. Saat itu aku tengah tidak di rumah karena ada jadwal mengajar privat di luar. Dan ada pesan masuk dari orang rumah bahwa ada Ustaz Hari bertandang ke rumah bersama seorang pemuda. Hal tersebut juga membuatku kaget, ternyata Ustaz Hari serius dengan ucapannya.
Selepas maghrib aku tiba di rumah, aku langsung menemui Ibu. Ibu pun bercerita bahwa tadi kedatangan tamu, Ustaz Hari dan seorang pemuda bernama Hadi, mereka ingin memperkenalkan diri dan meminta izin untuk mengenalku.
Karena masih merasa lelah dan tidak tenang, aku izin pada Ibu untuk sejenak istirahat dan melaksanakan salat isya terlebih dahulu. Dalam salat, tidak terasa air mata mengalir begitu saja. Ibu yang sepertinya sedari tadi menungguku, selesai aku salat ia langsung mendekatiku.
"Kalau kamu belum siap gak apa-apa, Kak. Bisa dibicarain baik-baik." Ucap Ibu.
Aku pun langsung memeluknya erat dengan tangis yang tak terbendung.
"Bu," ucapku sembari menatap kedua matanya, "selama ini Kakak berniat untuk tidak menjalin hubungan dengan seorang pria dan selalu berdoa kepada Allah untuk jangan sampai hati ini diberikan kepada orang yang salah. Jika ada lelaki yang benar-benar ingin beribadah kepada-Nya dan benar-benar sudah siap, Kakak berharap dia langsung bertemu dengan Ibu dan Bapak." Ucapku sambil memeluk Ibu dan menangis sejadi-jadinya.
"Lalu bagaimana, Kakak mau coba?" Tanyanya.
"Insyaallah, Bu, Kakak mau coba. Mungkin ini memang yang terbaik, dan jika Ibu mengizinkan tentunya."
"Iya, dicoba, ya, Kak?" Ucapnya sambil mengusap air mata yang ada di wajahku.
Beberapa hari setelah Ustaz Hari bertandang ke rumah mengantar Hadi, beliau mulai berkomunikasi dengan ibu lewat pesan singkat untuk memperkenalkan Hadi lebih jauh. Sementara itu, ada pesan masuk di ponselku.
"Bismillah, Assalamu'alaikum Wr. Wb. Maaf mengganggu, saya berniat untuk mengkhitbah atau melamar antum pekan ini, itu rencana saya dan perwakilan keluarga saya. Saya dapat kabar dari Ustaz Hari kalau antum mau melaksanakan KKN di Sukabumi selama beberapa bulan, maka saya ingin menanyakan baiknya seperti apa, apakah saya ke rumah sebelum antum berangkat atau saya ke rumah antum dalam keadaan antum tidak ada di rumah?" isi pesan tersebut.
Jelas aku kaget tiba-tiba mendapat pesan seperti itu. Dari isi pesannya aku menduga kalau pesan itu dari Hadi, aku pun menceritakan hal itu pada Ibu.
"Lebih baik Kakak bilang kalau Kakak harus fokus melaksanakan KKN terlebih dahulu." Sarannya setelah kuceritakan apa yang terjadi.
Atas saran Ibu tersebut, aku pun membalas pesan dari Hadi untuk menjelaskan bahwa tidak bermaksud untuk menolak niat baiknya, namun keharusan untuk fokus terhadap tugas terdekatlah yang membuat niat baik tersebut tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat ini. Ia memaklumi dan bersedia menunggu jawabanku setelah KKN.
Mendekati selelsainya tugas KKN, Sukabumi sempat dilanda gempa bumi beberapa kali, hal tersebut membuat keluarga di Bogor khawatir, termasuk keluarga Hadi. Ibunda Hadi yang sudah menanyakan tentang keadaanku di Sukabumi–tak lupa langsung menanyakan perihal kepulanganku akan dijemput oleh siapa nanti. Beliau menyarankanku untuk dijemput olehnya dan Hadi. Setelah bertanya kepada Ibu di rumah, kebetulan memang tidak ada yang bisa menjemput. Saran Ibunda Hadi pun aku terima setelah sebelumnya meminta izin kepada Ibu terlebih dahulu.
Sesuai yang direncanakan, saat kepulangan tiba, Hadi serta Ibundanya benar-benar datang menjemput. Itu merupakan pertama kalinya kami bertemu, entah Hadi atau Ibundanya–walaupun dengan Hadi, kami pernah secara tak sengaja beberapa kali bertemu. Namun di pertemuan kali ini berbeda, walau kami masih tidak saling bertatapan antara aku dengan Hadi–apalagi sampai mengobrol satu sama lain.
Beberapa minggu setelahnya, Hadi membahas kembali perihal niatnya untuk mengkhitbah atau melamar lewat pesan singkat, dan ia akan datang ke rumah bersama beberapa kerabat. Aku pun mempersilakan ia bersama rombongannya untuk datang ke rumah.
Di hari lamaran tiba, Hadi–yang datang bersama rombongan keluarga–menyampaikan maksud dan tujuan dirinya beserta keluarga untuk melamarku dengan niat menyempurnakan agama, beribadah kepada Allah. Dengan izin Allah, orang tuaku mengiyakan, menerima lamaran dari Hadi. Kemudian dibicarakanlah perihal waktu pelaksanaan pernikahan yang mencapai kesepakatan dilaksanakan di bulan November tahun ini.
4. Tidak lengkap rasanya jika suatu momen penting tidak ada yang namanya dokumentasi. Maka dari itu saya mencoba mencari sebuah jasa untuk mengabadikan momen kebahagiaan saya bersama Kirani nanti. Karena Kirani meminta agar tidak perlu memakai jasa yang terlalu mahal, dan beruntung, saya menemukan jasa dokumentasi yang sekiranya lebih murah dari harga jasa kebanyakan–namun cukup memberikan kualitas yang baik setelah melihat hasil-hasil dokumentasinya di akun media sosial mereka. Saya pun langsung menghubungi bagian pemasarannya dan menjelaskan konsep yang sempat terlintas di pikiran saya, mereka–jasa dokumentasi–menerima konsep tersebut dan siap menyanggupi.
5. Hari yang mendebarkan tiba. Aku yang mengenakan busana serba putih–hanya diperbolehkan menunggu di dalam kamar sampai prosesi akad nikah selesai. Jantung berdegub kencang, kaki dan tangan gemetar. Ibu yang duduk di sampingku mencoba menenangkan.
"Sah!" begitu kata saling bersahutan di luar yang terdengar sampai ke dalam kamarku.
"Kamu sudah sah jadi seorang istri, Kak." ucap Ibu sembari menatapku dengan mata yang berbinar.
Aku tak sanggup menahan air mata yang terbendung, air mata bahagia, kupeluk Ibu lebih erat setelah ia memelukku lebih dulu. Aku pun dituntunnya keluar untuk dipertemukan dengan suamiku, iya, suamiku, aku tersipu malu mendengar kenyataan kalau kini aku sudah bersuami.
Di tengah keramaian keluargaku dan keluarga Mas Hadi, aku melihat seseorang yang cukup aku kenal.
"Zuar!" panggilku padanya yang memegang sebuah kamera DSLR di tangannya setelah aku memastikan bahwa dia memang Zuar.
Ia pun melihatku dan melambai, kemudian memotretku bersama Hadi yang sudah berada di pelaminan dan untuk beberapa waktu ia, Zuar, tak terlihat lagi.
"Siapa lelaki barusan?" tanya Mas Hadi yang mungkin penasaran.
"Oh, yang barusan, namanya Lazuardi, adik kelasku waktu SMA, aku dan teman-teman lebih sering memanggilnya Zuar. Dulu dia sering ikut kajian bersama di luar kelas yang diadakan Ustaz Syafi'i, guru kami. Aku pun cukup mengenal dan dekat dengannya." jelasku padanya.
Dia hanya mengangguk-angguk.
"Oalah, jadi kamu gantiin rekan kamu yang baru bisa dateng jam segini, toh?" ucapku setelah mendengar penjelasan Zuar yang baru mendapat kesempatan berbicara denganku seberes aku berganti busana dan sedikit merapikan riasan di ruang tata rias.
"Dan sekarang harus berangkat, ada urusan lain." ucapnya sambil merogoh sesuatu di dalam tas kecilnya.
"Bentar banget, ya sudah kalau memang ada urusan, hati-hati." ucapku
"Ada sesuatu dari saya, mungkin gak bisa dibilang barang berguna–apalagi berharga." ucap Zuar sembari memberi sebuah bingkisan berwarna cokelat.
"Pasti buku, ya? Terima kasih." ucapku menduga.
"Hehe, pamit, ya?" ucapnya sembari melambai lemah dan pergi.
Karena penasaran, sebelum diharuskan kembali ke pelaminan, aku menyempatkan diri membuka bingkisan pemberian Zuar tersebut.
Saat kubuka, ternyata tebakanku benar, memang sebuah buku, dengan sampulnya yang berwarna hitam, di depan sampul buku tersebut terdapat secarik kertas berisi tulisan, kubaca tulisan tersebut.
Sebuah pesan yang masuk di ponselku malam itu cukup menyita perhatianku–hingga kawanku yang tengah bercerita tidak begitu aku perhatikan. Pesan tersebut darimu, wanita yang pernah mengukir kenang di relung hati, Kirani. Kau mengirim sebuah video berdurasi pendek beserta tulisan yang mengarah kepada sebuah undangan pernikahan.
Saat itu, setelah kubaca pesan darimu, waktu terasa terhenti, tak bergerak barang sejenak, seakan menunggu kesadaranku kembali. Aku tak tahu harus berbuat apa, karena tidak aku siapkan diriku untuk mengalami hal yang belum pernah aku duga seperti ini.
"Jangan lupa datang, ya, Zuar." tambahmu dengan titik dua dan tanda kurung yang terlihat seperti sebuah senyuman.
Berusaha sadar dan tegar, aku tetap meladeni pesan darimu.
"Pasti" balasku cepat "turut berbahagia." tutupku juga dengan titik dua dan tanda kurung membentuk senyum.
Di saat yang bersamaan, pesan masuk dari rekan kerjaku, kalau kau belum tahu, aku berkerja–buruh lepas lebih tepatnya–di sebuah jasa dokumentasi pernikahan atau acara yang memang membutuhkan jasa dokumentasi, Lead Production namanya. Rekan kerjaku tersebut memintaku untuk menggantikannya sementara waktu di sebuah acara pernikahan yang dilaksanakan pekan depan karena ada urusan yang mengaharuskannya datang ke sesuatu tempat terlebih dahulu, aku pun menyanggupi untuk menggantikannya.
Namun aku tidak tahu kalau ternyata akan ditugaskan di acara pernikahan dengan mempelai wanita bernama Kirani–yang ternyata adalah dirimu–setelah aku mencari tahu. Ingin aku membatalkan tugas rekanku itu, namun namaku sudah dicatat oleh ketua tim kerja dan memang tidak ada yang bisa diminta untuk menggantikan.
Akan sangat menyiksa batinku yang belum siap ini jika aku harus melaksanakan tugas yang mengharuskanku menyaksikan kebahagiaanmu dengan orang lain. Meski begitu, tetap harus aku lakukan sebagai bentuk diri ini menerima sebuah kenyataan. Kenyataan yang akan membawaku kepada perpisahan antara kau–sang alamat tujuan rasa ini akan dikirimkan, dengan aku–lelaki malang–yang sebentar lagi akan mencicipi pahitnya kehilangan.
Seminggu berlalu, tibalah hari di mana akan jadi hari terberat bagi hatiku, hari pernikahanmu.
Aku sedikit keheranan saat prosesi akad nikah–kau tidak nampak. Mungkin ini prosesi yang pernah kaudambakan waktu itu, yang pernah kauceritakan saat aku menemanimu di perjalanan sepulang sekolah. Aku jadi teringat, saat itu kau juga bercerita kenapa kau tak ingin menjalin sebuah hubungan selain pernikahan, akan jadi hal yang istimewa jika pernikahan tidak pernah melalui proses pacaran–ucapmu waktu itu. Sungguh beruntung lelaki yang tengah berjabat tangan dengan ayahmu itu, ia akan hidup–sampai mati bersama dengan orang yang istimewa–seperti katamu.
Selang beberapa menit penyataan sah diucapkan para saksi, kau muncul dari balik tirai kamar, aku yang seharusnya mengambil gambar di momen itu, malah terpaku memandangi dirimu yang parasnya bagai bidadari–ah kau memang bidadari, sejenak kukutuki diriku yang tak berlaku semestinya.
Saat kau menyadari keberadaanku, aku lupa akan sesuatu, membungkus hadiah dariku untukmu, ingatku seketika. Aku pun pergi ke tempat di mana beberapa waktu tidak akan kaulihat, aku menuliskan sesuatu di selembar kertas sebagai pengantar hadiah untukmu, sebuah buku, yang di dalamnya sudah aku tuliskan sebuah cerita yang aku yakin tidak akan pernah kaulupa. Dan kubungkus dengan sampul cokelat polos tak bermakna, akan aku berikan padamu setelah rekan kerjaku datang untuk menggantikanku.
Semoga kau suka, semoga kau bahagia.
Dari lelaki malang,
Lazuardi.
Aku pun segera membuka buku hitam yang bertuliskan kata "Di Hari Bahagiamu" di depan sampulnya ini, kubaca sampai selesai. Seketika aku terdiam, mengingat kembali apa yang terjadi–yang sesungguhnya tak sesuai dengan apa yang kautulis ini.
Aku pun mengutuk diri, dan pastinya juga mengutuk dirimu, dasar, lelaki ceroboh, lelaki kekanak-kanakan, lelaki malang, lelaki, yang selama ini kunanti.
Selepas maghrib aku tiba di rumah, aku langsung menemui Ibu. Ibu pun bercerita bahwa tadi kedatangan tamu, Ustaz Hari dan seorang pemuda bernama Hadi, mereka ingin memperkenalkan diri dan meminta izin untuk mengenalku.
Karena masih merasa lelah dan tidak tenang, aku izin pada Ibu untuk sejenak istirahat dan melaksanakan salat isya terlebih dahulu. Dalam salat, tidak terasa air mata mengalir begitu saja. Ibu yang sepertinya sedari tadi menungguku, selesai aku salat ia langsung mendekatiku.
"Kalau kamu belum siap gak apa-apa, Kak. Bisa dibicarain baik-baik." Ucap Ibu.
Aku pun langsung memeluknya erat dengan tangis yang tak terbendung.
"Bu," ucapku sembari menatap kedua matanya, "selama ini Kakak berniat untuk tidak menjalin hubungan dengan seorang pria dan selalu berdoa kepada Allah untuk jangan sampai hati ini diberikan kepada orang yang salah. Jika ada lelaki yang benar-benar ingin beribadah kepada-Nya dan benar-benar sudah siap, Kakak berharap dia langsung bertemu dengan Ibu dan Bapak." Ucapku sambil memeluk Ibu dan menangis sejadi-jadinya.
"Lalu bagaimana, Kakak mau coba?" Tanyanya.
"Insyaallah, Bu, Kakak mau coba. Mungkin ini memang yang terbaik, dan jika Ibu mengizinkan tentunya."
"Iya, dicoba, ya, Kak?" Ucapnya sambil mengusap air mata yang ada di wajahku.
***
Beberapa hari setelah Ustaz Hari bertandang ke rumah mengantar Hadi, beliau mulai berkomunikasi dengan ibu lewat pesan singkat untuk memperkenalkan Hadi lebih jauh. Sementara itu, ada pesan masuk di ponselku.
"Bismillah, Assalamu'alaikum Wr. Wb. Maaf mengganggu, saya berniat untuk mengkhitbah atau melamar antum pekan ini, itu rencana saya dan perwakilan keluarga saya. Saya dapat kabar dari Ustaz Hari kalau antum mau melaksanakan KKN di Sukabumi selama beberapa bulan, maka saya ingin menanyakan baiknya seperti apa, apakah saya ke rumah sebelum antum berangkat atau saya ke rumah antum dalam keadaan antum tidak ada di rumah?" isi pesan tersebut.
Jelas aku kaget tiba-tiba mendapat pesan seperti itu. Dari isi pesannya aku menduga kalau pesan itu dari Hadi, aku pun menceritakan hal itu pada Ibu.
"Lebih baik Kakak bilang kalau Kakak harus fokus melaksanakan KKN terlebih dahulu." Sarannya setelah kuceritakan apa yang terjadi.
Atas saran Ibu tersebut, aku pun membalas pesan dari Hadi untuk menjelaskan bahwa tidak bermaksud untuk menolak niat baiknya, namun keharusan untuk fokus terhadap tugas terdekatlah yang membuat niat baik tersebut tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat ini. Ia memaklumi dan bersedia menunggu jawabanku setelah KKN.
***
Mendekati selelsainya tugas KKN, Sukabumi sempat dilanda gempa bumi beberapa kali, hal tersebut membuat keluarga di Bogor khawatir, termasuk keluarga Hadi. Ibunda Hadi yang sudah menanyakan tentang keadaanku di Sukabumi–tak lupa langsung menanyakan perihal kepulanganku akan dijemput oleh siapa nanti. Beliau menyarankanku untuk dijemput olehnya dan Hadi. Setelah bertanya kepada Ibu di rumah, kebetulan memang tidak ada yang bisa menjemput. Saran Ibunda Hadi pun aku terima setelah sebelumnya meminta izin kepada Ibu terlebih dahulu.
Sesuai yang direncanakan, saat kepulangan tiba, Hadi serta Ibundanya benar-benar datang menjemput. Itu merupakan pertama kalinya kami bertemu, entah Hadi atau Ibundanya–walaupun dengan Hadi, kami pernah secara tak sengaja beberapa kali bertemu. Namun di pertemuan kali ini berbeda, walau kami masih tidak saling bertatapan antara aku dengan Hadi–apalagi sampai mengobrol satu sama lain.
Beberapa minggu setelahnya, Hadi membahas kembali perihal niatnya untuk mengkhitbah atau melamar lewat pesan singkat, dan ia akan datang ke rumah bersama beberapa kerabat. Aku pun mempersilakan ia bersama rombongannya untuk datang ke rumah.
Di hari lamaran tiba, Hadi–yang datang bersama rombongan keluarga–menyampaikan maksud dan tujuan dirinya beserta keluarga untuk melamarku dengan niat menyempurnakan agama, beribadah kepada Allah. Dengan izin Allah, orang tuaku mengiyakan, menerima lamaran dari Hadi. Kemudian dibicarakanlah perihal waktu pelaksanaan pernikahan yang mencapai kesepakatan dilaksanakan di bulan November tahun ini.
4. Tidak lengkap rasanya jika suatu momen penting tidak ada yang namanya dokumentasi. Maka dari itu saya mencoba mencari sebuah jasa untuk mengabadikan momen kebahagiaan saya bersama Kirani nanti. Karena Kirani meminta agar tidak perlu memakai jasa yang terlalu mahal, dan beruntung, saya menemukan jasa dokumentasi yang sekiranya lebih murah dari harga jasa kebanyakan–namun cukup memberikan kualitas yang baik setelah melihat hasil-hasil dokumentasinya di akun media sosial mereka. Saya pun langsung menghubungi bagian pemasarannya dan menjelaskan konsep yang sempat terlintas di pikiran saya, mereka–jasa dokumentasi–menerima konsep tersebut dan siap menyanggupi.
5. Hari yang mendebarkan tiba. Aku yang mengenakan busana serba putih–hanya diperbolehkan menunggu di dalam kamar sampai prosesi akad nikah selesai. Jantung berdegub kencang, kaki dan tangan gemetar. Ibu yang duduk di sampingku mencoba menenangkan.
"Sah!" begitu kata saling bersahutan di luar yang terdengar sampai ke dalam kamarku.
"Kamu sudah sah jadi seorang istri, Kak." ucap Ibu sembari menatapku dengan mata yang berbinar.
Aku tak sanggup menahan air mata yang terbendung, air mata bahagia, kupeluk Ibu lebih erat setelah ia memelukku lebih dulu. Aku pun dituntunnya keluar untuk dipertemukan dengan suamiku, iya, suamiku, aku tersipu malu mendengar kenyataan kalau kini aku sudah bersuami.
Di tengah keramaian keluargaku dan keluarga Mas Hadi, aku melihat seseorang yang cukup aku kenal.
"Zuar!" panggilku padanya yang memegang sebuah kamera DSLR di tangannya setelah aku memastikan bahwa dia memang Zuar.
Ia pun melihatku dan melambai, kemudian memotretku bersama Hadi yang sudah berada di pelaminan dan untuk beberapa waktu ia, Zuar, tak terlihat lagi.
"Siapa lelaki barusan?" tanya Mas Hadi yang mungkin penasaran.
"Oh, yang barusan, namanya Lazuardi, adik kelasku waktu SMA, aku dan teman-teman lebih sering memanggilnya Zuar. Dulu dia sering ikut kajian bersama di luar kelas yang diadakan Ustaz Syafi'i, guru kami. Aku pun cukup mengenal dan dekat dengannya." jelasku padanya.
Dia hanya mengangguk-angguk.
***
"Dan sekarang harus berangkat, ada urusan lain." ucapnya sambil merogoh sesuatu di dalam tas kecilnya.
"Bentar banget, ya sudah kalau memang ada urusan, hati-hati." ucapku
"Ada sesuatu dari saya, mungkin gak bisa dibilang barang berguna–apalagi berharga." ucap Zuar sembari memberi sebuah bingkisan berwarna cokelat.
"Pasti buku, ya? Terima kasih." ucapku menduga.
"Hehe, pamit, ya?" ucapnya sembari melambai lemah dan pergi.
Karena penasaran, sebelum diharuskan kembali ke pelaminan, aku menyempatkan diri membuka bingkisan pemberian Zuar tersebut.
Saat kubuka, ternyata tebakanku benar, memang sebuah buku, dengan sampulnya yang berwarna hitam, di depan sampul buku tersebut terdapat secarik kertas berisi tulisan, kubaca tulisan tersebut.
Sebuah pesan yang masuk di ponselku malam itu cukup menyita perhatianku–hingga kawanku yang tengah bercerita tidak begitu aku perhatikan. Pesan tersebut darimu, wanita yang pernah mengukir kenang di relung hati, Kirani. Kau mengirim sebuah video berdurasi pendek beserta tulisan yang mengarah kepada sebuah undangan pernikahan.
Saat itu, setelah kubaca pesan darimu, waktu terasa terhenti, tak bergerak barang sejenak, seakan menunggu kesadaranku kembali. Aku tak tahu harus berbuat apa, karena tidak aku siapkan diriku untuk mengalami hal yang belum pernah aku duga seperti ini.
"Jangan lupa datang, ya, Zuar." tambahmu dengan titik dua dan tanda kurung yang terlihat seperti sebuah senyuman.
Berusaha sadar dan tegar, aku tetap meladeni pesan darimu.
"Pasti" balasku cepat "turut berbahagia." tutupku juga dengan titik dua dan tanda kurung membentuk senyum.
Di saat yang bersamaan, pesan masuk dari rekan kerjaku, kalau kau belum tahu, aku berkerja–buruh lepas lebih tepatnya–di sebuah jasa dokumentasi pernikahan atau acara yang memang membutuhkan jasa dokumentasi, Lead Production namanya. Rekan kerjaku tersebut memintaku untuk menggantikannya sementara waktu di sebuah acara pernikahan yang dilaksanakan pekan depan karena ada urusan yang mengaharuskannya datang ke sesuatu tempat terlebih dahulu, aku pun menyanggupi untuk menggantikannya.
Namun aku tidak tahu kalau ternyata akan ditugaskan di acara pernikahan dengan mempelai wanita bernama Kirani–yang ternyata adalah dirimu–setelah aku mencari tahu. Ingin aku membatalkan tugas rekanku itu, namun namaku sudah dicatat oleh ketua tim kerja dan memang tidak ada yang bisa diminta untuk menggantikan.
Akan sangat menyiksa batinku yang belum siap ini jika aku harus melaksanakan tugas yang mengharuskanku menyaksikan kebahagiaanmu dengan orang lain. Meski begitu, tetap harus aku lakukan sebagai bentuk diri ini menerima sebuah kenyataan. Kenyataan yang akan membawaku kepada perpisahan antara kau–sang alamat tujuan rasa ini akan dikirimkan, dengan aku–lelaki malang–yang sebentar lagi akan mencicipi pahitnya kehilangan.
***
Seminggu berlalu, tibalah hari di mana akan jadi hari terberat bagi hatiku, hari pernikahanmu.
Aku sedikit keheranan saat prosesi akad nikah–kau tidak nampak. Mungkin ini prosesi yang pernah kaudambakan waktu itu, yang pernah kauceritakan saat aku menemanimu di perjalanan sepulang sekolah. Aku jadi teringat, saat itu kau juga bercerita kenapa kau tak ingin menjalin sebuah hubungan selain pernikahan, akan jadi hal yang istimewa jika pernikahan tidak pernah melalui proses pacaran–ucapmu waktu itu. Sungguh beruntung lelaki yang tengah berjabat tangan dengan ayahmu itu, ia akan hidup–sampai mati bersama dengan orang yang istimewa–seperti katamu.
Selang beberapa menit penyataan sah diucapkan para saksi, kau muncul dari balik tirai kamar, aku yang seharusnya mengambil gambar di momen itu, malah terpaku memandangi dirimu yang parasnya bagai bidadari–ah kau memang bidadari, sejenak kukutuki diriku yang tak berlaku semestinya.
Saat kau menyadari keberadaanku, aku lupa akan sesuatu, membungkus hadiah dariku untukmu, ingatku seketika. Aku pun pergi ke tempat di mana beberapa waktu tidak akan kaulihat, aku menuliskan sesuatu di selembar kertas sebagai pengantar hadiah untukmu, sebuah buku, yang di dalamnya sudah aku tuliskan sebuah cerita yang aku yakin tidak akan pernah kaulupa. Dan kubungkus dengan sampul cokelat polos tak bermakna, akan aku berikan padamu setelah rekan kerjaku datang untuk menggantikanku.
Semoga kau suka, semoga kau bahagia.
Dari lelaki malang,
Lazuardi.
Aku pun segera membuka buku hitam yang bertuliskan kata "Di Hari Bahagiamu" di depan sampulnya ini, kubaca sampai selesai. Seketika aku terdiam, mengingat kembali apa yang terjadi–yang sesungguhnya tak sesuai dengan apa yang kautulis ini.
Aku pun mengutuk diri, dan pastinya juga mengutuk dirimu, dasar, lelaki ceroboh, lelaki kekanak-kanakan, lelaki malang, lelaki, yang selama ini kunanti.
Comments
Post a Comment