Hilangnya Sinar Langit

Dalam keadaan lemas, Zuar dengan lengannya terkulai di ujung kasur–masih butuh beberapa waktu agar bisa mengangkat badannya sendiri yang (menurut khayalan) beratnya seperti gajah liar depan rumahnya di dalam mimpi.

Putus asa, ia akhirnya harus lapang dada seharian bercinta dengan kasur yang ia terima dari kakaknya dua bulan lalu. Makan, minum, buang angin sampai buang air ia tuntaskan di atas kasur yang ternyata sudah terasa seperti hamparan batu-batu kerikil.

Ia tidak perlu sedikitpun berkata "tolong" atau semacamnya, karena dengan tingkahnya yang membuat siapapun gelisah, sekejap mata istrinya–yang siang-malam berusaha terjaga di atas bangku di samping kasur yang tidak malu dan mau bercinta dengan Zuar–langsung mengurus semua yang sekiranya membuat ia lega karena tidak akan mendengar rengekan manja sang suami.

Lastri–istri Zuar–sebenarnya sudah muak dengan keadaan suaminya yang satu bulan ini waktunya hanya dihabiskan di kamar, bermanja ria di atas kasur, dan tak sedikitpun memikirkan beban yang seharusnya ditanggung olehnya–setidaknya ditanggung berdua dengan Lastri.

Namun, berbaring di kasur, makan-minum sampai buang air di sana–bukanlah kehendak Zuar. Semua terjadi karena sebuah kecelakaan, kecelakaan yang menurut Zuar sangatlah direncanakan.

Sebulan lalu, tepatnya saat Zuar baru beberapa hari diputus-hubungan-kerja-nya, ia belum punya rencana mencari kerja–apalagi usaha. Kesehariannya hanya dihabiskan di rumah, membaca koran ditemani kopi hitam dan sepiring pisang goreng–merupakan impian Zuar sejak kecil setelah melihat ayahnya yang saat itu adalah hal terkeren dalam keluarga menurut Zuar. Tetapi tidak sekeren yang dilihat Lastri. 

"Koran, kopi, pisang goreng mana bakal ada kalau tidak pakai uang?" begitu cerocos Lastri setelah menaruh cangkir kopi yang kesekian kali–kesekian hari. 

"Lihat tuh, di depan sudah kena gusur, bagaimana bisa tinggal kalau kau cuma duduk manis di sini?" tunjuk Lastri pada robohan rumah oleh ekskavator di sebrang rumah mereka.

Zuar terus fokus dengan koran di depannya sambil sesekali menyeruput kopi dan menyantap pisang goreng buatan Lastri tercinta.

"Mau kemana?" tanya Zuar saat melihat istrinya lari terbirit-birit ke luar rumah. "Ah, dasar, menengok saja tidak dia."

Tiba-tiba gemuruh terdengar, sinar langit cerah pagi tadi seakan hilang dari pelataran rumah Zuar.

"Tolong" adalah kata terakhir yang diucapkan mulut sekaligus didengar oleh telinga Zuar.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita ini singkat, aku menaruh rasa padamu, tapi kubiarkan berlalu karena tahu kau tengah ingin berjalan sendirian—menuju Tuhan.

philo shopia

Jingga