Keputusan Hati
Kita secara tak sengaja dipertemukan. Aku yang terpesona oleh sisi lain wanita yang terpancar dari dirimu–seketika itu langsung menaruh perhatian lebih padamu, dan besar harap bisa pula mendapat perhatian lebih darimu, wahai wanita yang dianugerahi mata seindah permata.
Ah, mata seindah permata. Entah kenapa aku selalu mudah mendamba hanya karena sebuah indera, yang darinya aku tak pernah tahu baik-buruk perangai seorang manusia. Indera kadang dengan mudahnya mengelabui hati, hingga yang indah menurut mata; telinga; mulut dan indera lainnya, hati dengan polosnya menganggap indah apa yang mereka anggap indah.
Begitu malang nasib sang hati.
Begitu malang nasib sang pemilik hati.
Namun, hati juga punya cara hidupnya sendiri. Ia bisa menilai; ia bisa berdiskusi dengan akal sehat; ia bisa memutuskan apa yang terbaik bagi pemiliknya. Dan hatiku, ia telah menilai dan memutuskan bahwa engkau adalah apa yang terbaik untukku. Aku menerima dan meyakini hal itu.
Comments
Post a Comment