Lelaki Yang Belajar Mengikhlaskan (dari sebuah kekecewaan)

"Cinta sejati itu: tidak terucapkan, tapi diam-diam saling mendoakan." ucap Ilham via unggahan status di aplikasi layanan pesannya. 

"Ah, sejati-jatinya cinta yang diam-diam saling mendoakan, kalau tanpa usaha ya gak bakal jadi kenyataan." selorohku padanya yang tengah duduk di salah satu kursi malas dalam kamarku setelah kubaca unggahan status Ilham tersebut lewat ponselku. 

Kami pun tertawa. 

Ilham, kawan dekatku sejak sekolah menengah pertama-kini tengah dilanda kebingungan perihal wanita. Pasalnya, selalu saja ada wanita yang datang untuk mengenalnya lebih dekat-yang walaupun ujungnya berakhir dengan tanpa kepastian. Bukan karena tampan, mungkin ada sisi lain yang membuat beberapa wanita yang mengenalnya menjatuhkan hati padanya, entah apa. 

Seperti yang sudah aku katakan, kami sudah berkawan sejak masa sekolah menengah pertama-walau aku baru benar-benar berkawan dengannya di tingkat dua setelah menjadi satu tim dalam ekstrakurikuler olahraga juga keanggotaan di sebuah organisasi lima tahun lalu. 

Ia sering mengutarakan isi hatinya padaku tentang banyak hal, terutama tentang wanita. Karena itu, bisa kusebutkan satu-persatu siapa saja yang pernah atau yang tengah dekat dengannya. Namun, ada satu wanita yang sampai saat ini paling kuingat dan mungkin paling berkesan bagi Ilham, yakni Halimah. 

Halimah merupakan kawan satu kelas Ilham di tingkat dua sampai tingkat tiga sekolah menengah pertama. Parasnya yang cantik dan kepandaiannya di bidang akademik, membuat banyak di antara siswa-siswi serta guru-guru sekolah menaruh perhatian lebih padanya. Ia memiliki wajah yang teduh, sorot mata yang tajam menandakan keseriusan, namun memiliki nada bicara yang bersahabat-sehingga seringkali orang yang baru pertama kali diajaknya bicara tidak akan menyangka dengan karakter wajahnya yang terkesan dingin atau jutek. 

Ia juga merupakan salah satu anggota di organisasi yang aku dan Ilham ikuti. Jadi, aku pun cukup mengenalnya walau tidak sekenal Ilham padanya. Namun, alasan apa yang membuat Ilham menaruh hati padanya dan tetap menjaga perasaan untuknya aku tak pernah tahu dan tak berkeinginan tahu. Karena jika itu memang "rasa tak bernama", tak perlu ada alasan, bukan?


***


Karena kebetulan hari libur semester ini cukup lama, aku dan Ilham selalu menyempatkan diri untuk berolahraga atau sekadar jalan santai bersama mengitari kota Bogor-minimal satu kali dalam seminggu.

Kali ini, di sabtu sore, kami hanya jalan santai di sekitar Taman Sempur setelah membantu melatih anggota organisasi di sekolah menengah pertama kami dulu.

Sambil berjalan santai, kami berbincang banyak hal sampai ujungnya berbincang perihal wanita. Ilham bercerita tentang wanita yang akhir-akhir ini sering dia ajak bicara via aplikasi layanan pesan.

"Kabar Halimah bagaimana?" tanyaku tiba-tiba setelah Ilham selesai membahas wanita yang sering dia ajak bicara via aplikasi layanan pesan itu. 

"Sepertinya baik, aku sudah lama tidak bertemu atau sekadar mengajak bicara via layanan pesan dengannya setelah acara di bulan Ramadan kemarin itu." jawabnya dengan pandangan kosong ke depan. 

Aku hanya mengangguk, membiarkan ia yang mungkin tengah mengenang seseorang yang aku sebut namanya itu dalam lamunan.

Kulihat sekeliling, wajah-wajah yang sering kulihat menghiasi Taman Sempur dengan berlari di setiap sore terlihat serius dengan langkahnya, ada juga yang berjalan santai sambil menikmati suasana sore serta lagu yang disuguhi Park Ranger, anak kecil bermain balon sabun di lapangan rumput, tak sedikit juga yang hanya duduk-duduk bahkan sampai tiduran di tengah atau di pinggir lapangan rumput itu.

Langit yang tadinya cerah jingga, kini meredup, azan magrib sayup-sayup terdengar ke telinga, kami pun pergi menuju masjid terdekat. 

Selepas salat magrib, kami lanjutkan berkeliling mengitari pedestrian Kebun Raya Bogor dan kembali ke taman Sempur untuk mengambil motor Ilham yang diparkir di sana. 

Saat Ilham mengeluarkan motornya dari tempat parkir, aku yang tengah melihat-lihat ke arah lapangan rumput-mendengar seorang wanita memanggil namanya. Aku pun mencari sumber suara tadi sambil melangkah menuju motor Ilham.

"Hey, Zuar." seorang wanita memanggil namaku sembari menepuk pundakku.

Kulihat siapa yang menepuk pundakku "Eh, Halimah." kataku setelah kukenali wajah orang itu yang tengah dibonceng oleh seorang lelaki yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

Tanpa mengobrol panjang, aku langsung menaiki bangku belakang motor Ilham. Ilham pun bergegas menancap gas motornya yang sekelebat meninggalkan sosok Halimah serta lelaki yang memang belum kami kenal sebelumnya. 

"Gak nyangka" kataku kepada Ilham yang fokus mengendarai motor. 

"Dua kali aku dibuatnya kecewa." balasnya sambil tertawa. 

Kudengar ada sedikit getir di tawanya. 

Kata "dua kali" jadi mengingatkanku pada apa yang terjadi sebelum kami lulus dari sekolah menengah pertama. 

Saat itu, saat Ilham tengah fokus terhadap pelajaran sekolahnya di tingkat tiga-ia mengesampingkan urusan  wanita, khususnya Halimah yang setahuku memang tidak ada kejelasan di antara mereka berdua.

Satu waktu, ada kabar yang cukup mengejutkan bagi Ilham. Yakni terjalinnya hubungan antara Halimah dengan seorang lelaki, lelaki itu adalah Wira yang juga merupakan kawan satu kelas Ilham. Ilham merasa kecewa terhadap Halimah-wanita yang digadang-gadangnya tak akan pernah (setidaknya untuk saat itu) menjalin hubungan istimewa dengan seorang laki-laki. Namun, itulah kenyataannya. Marah, Ilham merasa tak berhak melakukan hal itu. Protes, mungkin Ilham yang sebenarnya salah mengambil langkah. Yang bisa dilakukannya saat itu hanyalah menerima kenyataan, kenyataan yang akhirnya mengubah cara pandangnya terhadap wanita-khususnya Halimah.


***


Tiga hari setelah kejadian di mana Ilham dikecewakan untuk kedua-kalinya oleh Halimah-seakan berusaha melupakan hal itu, Ilham kembali ke rutinitasnya membantu melatih adik-adik kelasnya di organisasi semasa sekolah menengah pertama dulu.

Kebetulan hari itu pembina puteri dari organisasi tersebut-yakni kak Hayati (dalam organisasi tersebut, kami memanggil "kakak" kepada senior juga pembina)-mengundang anggota organisasi beserta purna yang turut membantu di setiap latihan untuk makan bersama di rumahnya di sekitar Ciomas, Kabupaten Bogor. Ilham mengajakku, aku mengikut.

Di rumah kak Hayati, kami dihidangi nasi liwet.

Selepas makan, sambil mengobrol santai,  kak Hayati bercerita seputar sekolah dan organisasi. Namun, entah angin dari mana, kak Hayati bercerita tentang Halimah setelah diminta oleh anggota organisasi yang penasaran tentang kakak kelasnya-Ilham dan Halimah (di organisasi tersebut, perihal Ilham dengan Halimah merupakan rahasia umum yang belum benar-benar diketahui ceritanya oleh anggota organisasi atau adik kelas aku dan Ilham).

"Halimah pernah mengatakan bahwa ada satu laki-laki yang disukainya saat itu." ujar kak Hayati dalam ceritanya tentang Halimah (yang saat itu hanya diketahui oleh kak Hayati dan guru yang sangat dekat dengan Halimah).

"Siapa laki-laki tersebut?" tanya beberapa anggota organisasi yang penasaran. 

"Laki-laki istimewa itu ialah Ilham" jawab kak Hayati sambil menengok ke arah Ilham yang berada di sebelah kanannya. 

Sorak sorai terdengar dari kumpulan anggota organisasi yang duduk menyila di depan kak Hayati. 

Aku yang duduk persis di sebelah kanan Ilham, mengamati wajahnya yang cukup memerah. Seakan tahu apa yang terlintas di hatinya, aku pun ikut tersenyum.

Aku membayangkan-diri berada di posisi Ilham, aku akan berujar "Sial, kenapa aku baru tahu kalau aku adalah lelaki istimewa bagi Halimah." namun, aku benar-benar tak tahu apa yang akan diujarkan oleh Ilham setelah mengetahui bahwa Halimah memang menaruh hati padanya meski hal tersebut sudah terlewat lima tahun. 


***


Lusa setelahnya, aku bertandang ke rumah Ilham setelah melihat latihan anggota organisasi yang akan menampilkan sebuah kreasi di demo ekstrakurikuler beberapa minggu lagi.

Saat aku di rumahnya, ia tengah disibukkan oleh pekerjaan sampingannya. Aku sedikit membantu. 

Perkerjaan sampingan tersebut berlangsung sampai pukul sepuluh malam, karena memang sudah larut dan cuaca tengah hujan, aku memutuskan untuk menginap di rumah Ilham. 

Entah kenapa-sebelum benar-benar tidur-Ilham menceritakan tentang wanita yang dikenal dan pernah dekat dengannya dari mulai semasa sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas sampai kuliah-ia beberkan semua. Seakan tak mau mengganggu ia bercerita, aku hanya diam-fokus mendengarkan.

"Aku belum pernah tahu awal cerita kau dengan Halimah." kataku seberes ia bercerita. 

"Aku pun tak ingat betul bagaimana awalnya, yang aku ingat hanya aku dikenalkan oleh kawan satu organisasiku saat itu." jawabnya "yang jelas, aku tak berfokus untuk bisa menjalin hubungan dengannya." tambahnya. 

"Jadi, bagaimana?" tanyaku. 

"Entahlah, aku menceritakan semua wanita yang pernah kukenal sekaligus dekat denganku agar kau tahu bahwa aku pun pernah berada di titik sebagai laki-laki pada umumnya. Perihal Halimah, aku sudah meng-ikhlas-kannya setelah mengetahui hubungannya dengan kawanku sendiri. Kini, aku hanya akan fokus pada satu wanita agar pandanganku lebih terjaga." jawabnya. 

Aku hanya tersenyum mengiyakan, kuaktifkan ponselku yang ada di atas kasur, kuperlihatkan padanya cerita yang kubuat seharian, ia hanya mengatakan lanjutkan, aku pun mengingat-ingat kejadian, menyunting tulisanku lagi, kuberi judul ceritaku "Lelaki Yang Belajar Mengikhlaskan".

Comments

Popular posts from this blog

Cerita ini singkat, aku menaruh rasa padamu, tapi kubiarkan berlalu karena tahu kau tengah ingin berjalan sendirian—menuju Tuhan.

philo shopia

Jingga