Surat Sialan
Pada saat sang senja tak mau segera beranjak, dengan sepasang lengan
yang oleh kepalaku dijadikannya sandaran, aku dapati diriku tengah merebah–memandangi eloknya rembulan di kolong langit tak berawan.
Persis di samping kananku, tergolek tas yang kubawa seharian.
Kubuka, kurogoh tas itu dan kudapati secarik surat yang sampai saat ini belum
kuketahui kepada siapa surat ini dialamatkan.
Kubolak-balik kertas pembungkus surat ini yang tak tertulis satu
kata pun, baik berupa nama maupun alamat.
Akhirnya dengan hati-hati kubuka pembungkus surat ini, berharap
kutemukan sebuah nama yang dituju.
Kubaca secarik surat ini dengan teliti, sekelebat waktu berganti,
senja pergi digantikan pagi, entah kenapa tubuhku berubah posisi, ah, siku
tanganku terasa sakit, sepertinya aku sehabis jatuh.
"Duh, eh, maaf gak sengaja,
soalnya lagi buru-buru nih."
Sesosok wanita di depanku berbicara sambil memunguti buku-buku yang
jatuh.
"Oh, iya, gak masalah.” jawabku sambil membantunya memunguti buku.
"Eh, makasih." ucapnya meninggalkan senyum dan segera
pergi selepas buku-buku di lantai kembali ke pangkuannya.
Ah, sepagi ini aku dapati senyuman manis dari wanita bermata indah,
sarapan yang cukup mengenyangkan.
Sejenak aku amati sekitar, aneh, kenapa tiba-tiba aku ada di kampus?
Padahal tadi... Ah, aku tidak ingat tadi sedang di mana, yang kuingat sekarang aku
harus sudah berada di dalam kelas. Kulirik jam tanganku, sudah telat lima
menit, semoga dosenku belum datang, namaku bisa dicoretnya kalau sampai kali
ini aku terlambat lagi.
Beruntung, kali ini dosenku yang terlambat, dengan segera aku duduki
kursi yang kosong di bagian kanan paling belakang. Tumben, biasanya Pak Kus,
dosenku itu, selalu tepat waktu–bahkan terkadang sudah berdiri di depan kelas–sepuluh
menit sebelum kelas dimulai dan akan memasang wajah garangnya bila ada siswa
yang terlambat, namun kali ini sudah sepuluh menit lebih batang hidungnya belum
terlihat.
Sesaat kemudian, pintu terbuka, baru datang rupanya.
Eh, tunggu, itu bukan Pak Kus, dari perawakannya jelas-jelas dia
wanita, aku terbelalak, ternyata wanita yang tadi.
"Selamat pagi, hari ini Pak Kusnadi berhalangan hadir dan
beliau meminta saya untuk menggantikannya. Nama saya..."
Ah, sorak-sorai para siswa membuatku tak jelas mendengar namanya.
"Sebelum menuju materi yang akan kita bahas hari ini, silakan
baca buku referensi yang saya bawa terlebih dahulu. Tolong bagikan, ya, terima
kasih."
Kelas berakhir, dan aku langsung mengejar wanita yang tadi mengisi
materi di kelasku.
"Hey, boleh saya bantu?" tanganku langsung mengambil buku
di pangkuan wanita itu.
"Eh, hey, boleh boleh, setengahnya aja gak apa-apa, terima
kasih." ucapnya menyilakan setengah kaget.
"Kamu asistennya
Pak Kus? Kok, saya baru lihat?"
"Iya, eh, kamu siswa di kelas yang tadi? Sebentar, dan kamu
yang gak sengaja saya tabrak tadi ya? Duh, maaf banget ya, saya liat siku kamu
merah gitu."
"Hehe, bukan masalah. Gimana, ini hari pertama jadi asisten dosen kah?"
"Iya nih, dan tadi sempet bingung cari kelasnya."
"Hmm, pantas agak telat. Biasanya Pak Kus selalu tepat waktu."
"Iya, makanya tadi saya buru-buru, eh tau-tau malah nyasar ke
kelas lain." ucapnya sambil tertawa.
Sepintas kulirik giginya yang gemerlapan, ah, sempurna.
Setiba di depan perpustakaan, ia mengambil buku-buku di pangkuanku.
"Oke, cukup sampai sini, terima kasih atas bantuannya."
"Yakin? Oh, oke. Eh, iya, aku lupa namamu, hehe."
"Masih muda sudah pelupa, panggil saja Laras." sindirnya sambil
sedikit tertawa.
"Laras, oke. Dan aku..."
Belum sempat aku sebut namaku, ia yang baru melewati pintu masuk
perpustakaan tiba-tiba lenyap seakan ditelan kegelapan dan entah kenapa ruang
perpustakaan di depanku berubah menjadi sebuah toko buku yang sering
kukunjungi, dengan sendirinya aku masuki toko ini dan dalam benakku seperti ada
hasrat mencari buku lanjutan dari buku yang kemarin baru aku bereskan. Aku pun
susuri jajaran buku di sebelah ujung kiri toko yang pekan lalu aku dapati buku itu.
Nah, itu dia bukunya.
"Eh, maaf"
Seorang wanita tak jadi mengambil buku saat tangannya dan tanganku
berpapasan pada buku yang sama, tanpa menatap wajahnya aku menyilakannya untuk
mengambil buku itu meski sepertinya hanya tersisa satu di toko ini.
"Eh, kamu"
Sebentar, aku ingat suara
itu, lantas kulihat sumber suaranya
"Laras?"
Selepas dari toko buku, aku menawarinya untuk mampir ke coffee shop di seberang terlebih dahulu,
ia pun tak keberatan.
"Oh, jadi gara-gara buku itu akan diadaptasi menjadi film, kamu
buru-buru cari bukunya sebelum nyesel sudah nonton filmnya duluan?"
komentar Laras sambil menyeruput latte dari cangkir dengan kedua tangannya setelah kuceritai kenapa aku membeli buku yang kemarin
beres kubaca.
"Iya, dan sialnya saya malah penasaran sama lanjutannya, yang
si Annelies..."
"Nah iya, tapi kalo saya penasaran banget bakal ada konflik apa
lagi di buku selanjutnya, bener gak masalah nih kalo bukunya aku yang ambil?"
"Santai, nanti bisa saya cari lagi di toko yang lain"
"Oh, oke. Eh, iya. Saya belum tau namamu." tanyanya sambil
meletakkan cangkirnya di atas meja.
"Oh, iya, hampir lupa. Perkenalkan, Minke." aku mengulurkan
tangan.
"Hey, hey, serius." ia meninju bahuku sambil tertawa.
"Haha, Lazuardi, tapi kebanyakan memanggil Zuar."
"Oke, saya panggil kau Lazu saja ya?"
"Silakan"
Belum habis latte yang
diminum Laras, ia pamit pulang karena ada urusan mendadak. Kuikuti ia dengan
mataku, sekejap hilang dan bayangnya digantikan sebuah sketsa wajahnya di
kamarku. Lagu yang kudengar di Coffee Shop
berubah menjadi obrolan di radio yang membahas seputar orang tidak waras berkeliaran
di kampus. Kopi di hadapanku seakan-akan hanya fatamorgana digantikan selembar
catatan. Kubaca catatan itu:
Laras, bagaimana kabarmu? Sudah sebulan lebih aku tak lagi melihatmu
setelah terakhir bertemu di coffee shop itu. Setiap kali menggantikan Pak Kus
di kelasmu, aku berharap kau yang duduk di pojok kanan belakang itu, hingga aku
tak fokus memberi materi di kelas karena selalu melamunkanmu. Aku pun jadi
lebih sering terlambat setiap masuk kelas karena tak semangat bila ternyata tak
ada kamu, hingga akhirnya Pak Kus memintaku untuk berhenti menggantikannya
setiap kali masuk kelasmu.
Kadang aku membawa banyak buku
menuju perpustakaan dengan harap kau membantuku lagi seperti waktu itu,
namun kau tak ada, bahkan orang perpustakaan tak pernah dengar ada siswi
bernama Laras di kelas Pak Kus dan kata mereka aku belum pernah dibantu oleh
seorang wanita. Aneh, aku pun pergi ke toko buku langgananku, siapa tahu kau
juga akan mencari buku lanjutan yang kau cari dulu, namun penjaga toko yang
sudah cukup mengenalku berkata bahwa buku terakhir yang aku cari ternyata sudah
terbeli atas namaku, bukan namamu. Aku pusing, coffee shop di seberang toko
buku tak lagi mampu menggodaku untuk menghampirinya walau sebentar.
Hingga aku memutuskan untuk ke taman, aku rebahkan badanku. Kulihat
senja kali ini lebih lama rasanya, tas di sampingku kurogoh isinya. Sebuah
surat, kubaca kepada siapa surat ini ditujukan. "Kepada La…" La? Mungkin
itu kau, Laras. Kubuka surat itu, kubacai dan tiba-tiba senja berubah menjadi
pagi.
Buk.
Buku-buku yang kubawa terjatuh, kulihat kau sedang memegang siku
lengan kananmu, mungkin kau kesakitan, "maaf, tak sengaja, sedang
buru-buru soalnya." kataku, kau pun membantu membereskan buku-bukuku itu.
Aku ucapkan terima kasih dengan senyum tulus dan bergegas pergi karena hari ini
aku harus menggantikan Pak Kusnadi di salah satu kelas.
Kuamati kini kamarku kembali menjadi taman yang terakhir kali aku
singgahi. Kini senja sudah mulai pergi, rembulan begitu terang benderang hingga
tulisan di secarik surat ini–terlihat dengan jelas. Dan kulihat kepada siapa
surat ini ditujukan.
"Kepada: Lazuardi..."
"...Dari: Laras"
Tunggu, tunggu, tunggu, mereka siapa? Aku kan Kusnadi, apa hubungan
mereka denganku? Ah, aku sudah pusing setelah disangka tidak waras hingga dikeluarkan
dari kampus, dituduh mencuri di toko buku dan diberi setengah cangkir kopi latte sisa orang yang duduk di coffee shop seberang toko buku.
Ditambah pusing oleh ini, dasar, surat sialan.
Daripada jadi gila, lebih baik aku tidur saja.
wah updateee, keren kak :D
ReplyDeletePusing gak tuh?
DeleteFYI, blog Lelaki Rumahan ganti alamat sama judulnya.
Cukup pusing :D
DeletePantesan. Ganti jadi apa kak?
Jadi Secarik Ingatan, alamatnya www. zaenimuhamad.blogspot.com
DeleteEntahlah bakal ganti lagi atau tidak. (Dasar, inkonsisten!) :'D
Asal konsisten menulis aja kak :)
Deletealamat/judul blog itu belakangan (menurut saya)
Paling bisa deh :D
DeleteSebenernya saya juga lagi menyemangati diri sendiri agar konsisten menulis kak :D
DeleteSemangat!
DeleteSiap kak!
ReplyDelete