Sebuah Kerinduan (yang mengancam)

Kau yang cantik nan menawan, padamu kutitipkan perasaan.

Kau yang jauh di angan, jarak dan waktu bekerjasama menjadi sebuah halangan.

Jujur, mataku tak merasa puas bila hanya memandangi bayangmu. Kecanduannya meningkat, dosisnya harus ditambah, bertemu denganmu misalnya.

Jemariku sudah bosan, bosan mengetik kata-kata yang tak tersampaikan. Meski berpuluh abjad hingga kalimat kutuliskan, tetap tombol perintah hapuslah yang dominan.

Hatiku lebih parah lagi, dia tak lagi hanya berharap dan berangan. Ia hendak membawa ragaku terbang, ke ragamu tujuan. Kurangajar memang.

Meski mereka keterlaluan, nampaknya aku terima dengan kerelaan. Karena mereka tahu maksud juga mauku: melepas rindu padamu.

Maka:

Berapa lama lagi kau mau mengulur waktu, hanya demi menjaga perasaanku?

Bukankah kau juga tahu, itu membuatku harus menikmati hal yang tak mengenakan: menunggu?

Seharusnya juga kau tahu, bagaimana seru dan menegangkannya berada di posisiku: berharap padamu.

"Cepatlah, apa lagi yang kau tunggu? Bukankah kau hanya perlu berikan padaku satu di antara dua jawaban? Jawaban yang setelahnya dapat membuatku melayang ke awang-awang atau malah jatuh; hancur sehancur-hancurnya." Mungkin, kata-kata itu yang nantinya akan aku lontarkan jika tak segera kau berikan padaku seberkas senyumanlewat pesan yang membuatku girang tak karuan.

Comments

  1. Akhirnya setelah menunggu dua purnama, saya baru bisa baca updateannya :D

    Salfok sama tulisan *kurangajar memang* :D. Lanjut kak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh, duh, duh, Nona bisa saja. Padahal, seharusnya dua purnama cukup untuk menelurkan beberapa tulisan, tapi ini cuma satu, haha.

      Iya, kurang ajar memang. :D

      Delete
  2. Sneng bcanya. Antara sneng sma baper monmaap yaa :')

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cerita ini singkat, aku menaruh rasa padamu, tapi kubiarkan berlalu karena tahu kau tengah ingin berjalan sendirian—menuju Tuhan.

philo shopia

Jingga